Bagikan:

MAGELANG — Kementerian Kebudayaan mendorong Candi Borobudur tidak hanya diperlakukan sebagai bangunan warisan dunia, tetapi juga sebagai ruang budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat.

Hal itu dibahas dalam Sarasehan Budaya Spiritual Kawasan Borobudur di Nurudin House, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu, 3 Mei. Kegiatan ini diikuti kepala desa dan pelaku budaya spiritual dari 20 desa di kawasan Borobudur.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan Borobudur perlu dikelola sebagai living heritage atau warisan budaya hidup. Artinya, pelestarian tidak berhenti pada batu, relief, dan wisata, tetapi juga menyentuh tradisi, komunitas, dan kehidupan warga sekitar.

“Kami mendorong situs-situs budaya, khususnya yang telah menjadi warisan dunia seperti Candi Borobudur, agar menjadi living heritage sehingga ada keberlanjutannya,” kata Fadli.

Fadli juga menyinggung rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur. Menurut Fadli, pemasangan itu bertujuan melengkapi fungsi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha.

Rencana tersebut, kata Fadli, sudah dibicarakan dengan Direktur Jenderal UNESCO Khaleed El-Enany. Ia menyebut UNESCO memahami kebutuhan tersebut.

“Pada prinsipnya UNESCO memahami kebutuhan kita, karena pemasangan chattra bertujuan melengkapi Borobudur sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” ujar Fadli.

Sarasehan itu juga membahas budaya spiritual di kawasan Borobudur, pusaka dan komunitas Tosan Aji, kirab, pangan spiritual, serta hubungan tradisi desa sekitar dengan relief candi.

Sejumlah aspirasi warga ikut disampaikan. Di antaranya konservasi desa, pelestarian rumah adat, tradisi, kesenian, peran pelaku seni, serta sinergi pemerintah pusat dan daerah.

Isu pendidikan juga masuk pembahasan. Budaya lokal dinilai perlu lebih dekat dengan dunia pendidikan agar tidak berhenti sebagai tontonan wisata.

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan mendorong masyarakat memanfaatkan program Dana IndonesiaRaya untuk memperkuat kegiatan budaya di kawasan Borobudur.

Fadli juga mengajak generasi muda memakai media sosial untuk mempromosikan budaya lokal. Menurutnya, kebudayaan dapat mendorong ekonomi bila dikelola dengan nilai dan akar yang jelas.