BANTEN - Langkah itu berjalan pelan menembus jalan setapak berbatu. Tak ada suara mesin kendaraan. Hanya desir angin pegunungan, suara dedaunan yang saling bergesekan, dan napas yang perlahan mulai berat ketika mengikuti kontur perbukitan menuju Kampung Cikeusik, wilayah Suku Baduy Dalam.
Sekitar pukul 15.00 WIB, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd. memulai perjalanan dari Baduy Luar menuju Baduy Dalam. Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan kerja. Ini seperti perjalanan menuju cara hidup yang berjalan lebih lambat, lebih sunyi, namun menyimpan banyak pelajaran tentang keluarga, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap kehidupan serta alam.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, langkah rombongan berhenti sejenak di sebuah gubuk sederhana untuk menjaga kebersamaan. Tidak ada yang berjalan terlalu cepat, tidak ada yang ditinggalkan di belakang. Keringat mulai jatuh, namun langkah terus bergerak dengan satu tujuan besar: memastikan negara hadir hingga ke wilayah adat yang selama ini hidup jauh dari hiruk-pikuk pembangunan modern.

Pukul 17.15 WIB, rombongan akhirnya tiba di Kampung Cikeusik. Di sana, Menteri Wihaji disambut hangat oleh jaro atau ketua kampung. Tak ada kursi kehormatan. Tak ada sekat jabatan. Semuanya duduk sama rata di lantai rumah panggung, lesehan seperti keluarga sendiri.
Negara Hadir dengan Cara Mendengar
Menteri Wihaji memilih menginap satu malam di Baduy Dalam, sebuah hal yang jarang dilakukan oleh pejabat negara. Malam turun menyelimuti Cikeusik tanpa listrik dan cahaya lampu kota. Penerangan hanya berasal dari damar—lampu minyak sayur yang menggantung temaram.
“Kami senang ada pemimpin yang mau datang dan menginap di sini. Biasanya tamu datang pagi lalu pulang sore, tapi sekarang ikut tinggal bersama kami,” ujar Bapak Asid atau Aki Icali (60), warga Suku Baduy Dalam.
BACA JUGA:
Di tengah kesunyian malam, percakapan mengalir hangat ditemani aroma asap kayu bakar dari tungku. Di sinilah negara hadir bukan melalui seremoni besar, melainkan lewat kesediaan untuk duduk bersama, mendengar cerita, dan menghargai kehidupan masyarakat adat apa adanya. Keesokan harinya, Menteri Wihaji bertemu dengan pu'un, pemimpin tertinggi adat, sebagai simbol bahwa pembangunan keluarga tidak dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap tradisi yang dijaga turun-temurun.