YOGYAKARTA - Masyarakat Kanekes atau yang sering disebut sebagai Suku Baduy, adalah sebuah kelompok adat Sunda yang tinggal di Kabupaten Lebak, Banten. Warga Baduy sudah terkenal sebagai kelompok yang masih memegang teguh tradisi dan budaya leluhur mereka. Salah satunya yaitu upacara adat kawalu. Apa itu ritual kawalu? Kawalu menjadi perwujudan serta ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pertanian yang diwujudkan dengan cara berpuasa. Upacara adat ini menjadi salah satu cara bagi orang-orang Baduy dalam menjaga pikukuh karuhun.
Apa Itu Ritual Kawalu?
Dikutip dari sebuah tulisan, Seba, Puncak Ritual Masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak Provinsi Banten, yang ditulis oleh Nandang Rusnandar, yang mengutip Kurnia, mengungkapkan bahwa pikukuh karuhun adalah doktrin yang mewajibkan mereka menjalani berbagai hal sebagai amanat leluhurnya.
Dikutip dari laman kebudayaan.kemendikbud.go.id, Kawalu berasal dari kata walu yang bermakna balik atau pulang. Upacara ini juga dapat disebut ngukus atau membakar dupa untuk mengiringi sesajen pemujaan. Pada umumnya, di setiap acara Kawalu selalu dilakukan pembakaran dupa sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
BACA JUGA:
Dilaksanakan tiga kali dalam setahun
Masyarakat Baduy menjalankan ritual kawalu sebanyak tiga kali dalam setahun, antara lain pada bulan Kasa, Karo, dan Katiga. Adapun makna dari puasa ini yaitu untuk membersihkan diri dari hawa nafsu yang buruk. Di bulan Kasa, mereka menjalankan kawalu tembey atau kawalu awal. Pada tanggal 16, semua masyarakat Baduy akan berpuasa. Puasa ini mereka lakukan selama sehari semalam hingga tanggal 17.
Pelaksanaan puasa Kawalu Orang Kanekes berawal pada pukul 5 sore hari sebelum hari H, dan berakhir pada pukul 5 sore hari keesokan harinya. Selama menjalankan puasa, mereka menahan diri dari makan dan minum sejak awal pelaksanaan puasa hingga menjelang buka puasa.
Pada tanggal tersebut, mereka akan berganti pakaian dengan yang baru dan bersih. Selanjutnya sederet ritual pun dilakukan, misalnya membuat saji (khusus wanita), mandi di sungai, pembacaan mantera oleh puun (ketua adat Baduy), dan ditutup dengan makan saji (buka puasa). Puasa di bulan Karo disebut juga dengan kawalu tengah, adapun di bulan Katiga dinamakan kawalu tutug.
Ritual ngalaksa
Di kawalu tutug, warga Baduy, baik tungtu (Baduy Dalam) dan panamping (Baduy Luar), menyelenggarakan ritual ngalaksa atau membuat makanan khas laksa. Prosesi ini dikerjakan oleh ibu-ibu. Dalam tulisan Upacara Seba pada Masyarakat Baduy, Endang Supriatna menjelaskan, laksa adalah makanan yang dibuat dari bahan tepung beras dan dibentuk seperti mi, kemudian dicetak ke dalam tempat adonan yang dinamai sangku.
Nandang juga menuliskan, orang-orang yang membuat laksa haruslah orang yang memiliki hati bersih dan jujur.
Ketika melangsungkan ngalaksa, warga Baduy memanfaatkannya untuk menghitung jumlah warga. Secara teknis, setiap kepala keluarga wajib menyerahkan ikatan tangkai padi kepada kokolot (tetua) kampung setempat sesuai dengan jumlah anggota keluarganya.
Demikian ulasan mengenai apa itu ritual kawalu yang dilakukan oleh orang-orang Suku Baduy. Semoga bermanfaat. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.