Bagikan:

JAKARTA - Krisis Timur Tengah mulai memukul jalur bantuan kemanusiaan dunia. UNHCR memperingatkan, gangguan di rute Teluk, termasuk Selat Hormuz, membuat pengiriman bantuan untuk pengungsi dan warga telantar makin mahal, lambat, dan rumit.

Menurut laporan Xinhua yang dikutip Minggu, 3 Mei, juru bicara UNHCR Carlotta Wolf mengatakan ketidakamanan di jalur utama Teluk telah mengganggu lalu lintas laut. Dampaknya merembet ke biaya bahan bakar, pangan, dan pengiriman barang.

Kenaikan biaya itu, kata Wolf, paling berat dirasakan orang-orang yang sudah hidup dalam keadaan darurat. Mereka termasuk jutaan pengungsi dan warga telantar. Di saat yang sama, lembaga bantuan makin sulit mengirim pertolongan tepat waktu.

Penutupan jalur laut utama memaksa pengiriman memakai rute yang lebih panjang dan mahal. Tarif pengiriman dari negara-negara pemasok utama naik hampir 18 persen sejak permusuhan dimulai.

Kapasitas penyedia transportasi global UNHCR juga turun dari 97 persen menjadi 77 persen sejak awal tahun ini.

“Untuk beberapa pengiriman, biayanya meningkat lebih dari dua kali lipat,” kata Wolf. Ia mencontohkan ongkos pengiriman barang bantuan dari stok global UNHCR di Dubai ke operasi di Sudan dan Chad.

UNHCR menaruh perhatian khusus pada Afrika. Kawasan itu menampung banyak krisis pengungsian yang saling tumpang tindih dan kerap terabaikan.

Di Kenya, salah satu lokasi stok global UNHCR, kenaikan harga bahan bakar sekitar 15 persen memicu keterlambatan dan mengurangi ketersediaan truk. Dampaknya terasa pada pengiriman ke Ethiopia, Republik Demokratik Kongo, dan Sudan Selatan.

Di Sudan, biaya pengiriman bantuan telah naik dua kali lipat dalam beberapa bulan terakhir. Pengalihan rute melalui Tanjung Harapan juga menambah waktu pengiriman hingga 25 hari.

“Jika ketidakstabilan di Timur Tengah berlanjut, kenaikan biaya, keterlambatan, dan terbatasnya kapasitas transportasi kemungkinan akan makin membatasi operasi kemanusiaan,” kata Wolf.