Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Kebudayaan menyiapkan penyusunan dan penerbitan buku suntingan karya Syekh Yusuf al-Makassari al-Bantani. Langkah ini penting karena sebagian besar karya ulama besar Nusantara itu masih tersimpan dalam bentuk manuskrip dan belum mudah diakses publik.

Program tersebut digarap bersama Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Fokus awalnya diarahkan pada tiga bundel manuskrip koleksi Perpustakaan Nasional RI berkode A 45, A 101, dan A 108. Tiga naskah itu dinilai penting karena berasal dari perpustakaan istana Kesultanan Banten.

Ketua Umum Manassa Agus Iswanto mengatakan, sedikitnya 23 karya Syekh Yusuf telah teridentifikasi dalam penelitian Manassa. Selain itu, ada lima manuskrip terkait yang tersimpan di Leiden, Belanda.

Dari lima manuskrip di Leiden, dua sudah tersedia dalam bentuk digital. Tiga lainnya masih memerlukan permohonan resmi kepada Leiden Library/UBL dan KITLV.

“Oleh karenanya kami berharap Kementerian Kebudayaan dapat berkoordinasi lebih lanjut dengan Leiden Library, untuk memungkinkan digitalisasi tiga manuskrip berikutnya, serta dapat melakukan kajian komparatif terhadap varian naskah tersebut,” kata Agus.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendukung percepatan program ini. Ia menilai karya Syekh Yusuf tidak hanya penting bagi pelestarian manuskrip Nusantara, tetapi juga bagi diplomasi budaya Indonesia.

Fadli meminta penyusunan buku tetap mempertahankan teks asli berbahasa Arab, disertai terjemahan bahasa Indonesia. Menurut Fadli, teks tidak perlu dilatinkan.

“Teks tidak perlu dilatinkan. Namun demikian, opsi penerjemahan ke bahasa Inggris tetap terbuka sebagai pengembangan buku ini nantinya. Kalau ada bahasa Inggris, saya kira di sana (Afrika Selatan) juga dapat respons yang bagus, sekaligus memperluas jangkauan internasional karya tersebut,” kata Fadli dalam keterangannya saat menerima pengurus Manasa di Kementerian Kebudayaan di Jakarta, Kamis, 30 April.

Kaitan Syekh Yusuf dengan Afrika Selatan menjadi nilai penting dalam proyek ini. Selain dikenal sebagai ulama besar dan pemikir tasawuf, Syekh Yusuf juga memiliki jejak sejarah kuat dalam diaspora Nusantara dan jaringan ulama dunia.

Program ini ditargetkan menghasilkan edisi kritis berbasis metode filologi, publikasi ilmiah berkualitas, akses terbuka, serta bahan rujukan untuk pendidikan dan penelitian. Kementerian Kebudayaan juga ingin karya Syekh Yusuf lebih mudah dibaca masyarakat Indonesia dan dikenalkan ke publik internasional.