Bagikan:

JAKARTA - Rencana pembangunan Museum Syekh Yusuf Al-Makassari di Cape Town, Afrika Selatan, menjadi sorotan sebagai upaya menghadirkan ruang sejarah sekaligus pusat kebudayaan Indonesia di luar negeri.

Museum ini nantinya tidak hanya menyimpan jejak perjuangan ulama besar asal Nusantara tersebut, tetapi juga berfungsi sebagai Rumah Budaya Indonesia yang memperkenalkan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan semangat perlawanan kepada masyarakat dunia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa proyek tersebut sedang dalam tahap persiapan dan koordinasi dengan pemerintah setempat serta Kementerian Luar Negeri. Ia menegaskan bahwa langkah ini telah mendapatkan dukungan penuh dari Presiden Prabowo Subianto.

“Langkah ini telah dikoordinasikan dengan otoritas setempat serta Kementerian Luar Negeri, dan telah disetujui oleh Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya, seperti dikutip ANTARA, Rabu, 29 April.

Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan penetapan kawasan Banten Lama sebagai Cagar Budaya Nasional. Upaya ini penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya hidup, termasuk Masjid Agung Banten yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Fadli turut menekankan peran Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai sosok pejuang yang utuh, menggabungkan kekuatan pemikiran dan aksi nyata. Ia dikenal menghasilkan puluhan karya tasawuf sekaligus terlibat dalam perlawanan terhadap penjajahan.

“Beliau adalah satu-satunya tokoh yang menyandang gelar Pahlawan Nasional di dua negara, Indonesia dan Afrika Selatan. Di tanah Banten inilah beliau mengabdi sebagai mufti sekaligus menantu Sultan Ageng Tirtayasa,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf yang menjadi momentum refleksi atas warisan intelektual dan perjuangannya lintas benua. Perayaan ini juga memiliki arti penting karena telah masuk dalam agenda UNESCO, menandakan pengakuan dunia terhadap pengaruhnya.

Berbagai kegiatan digelar di kawasan Masjid Agung Banten Lama, mulai dari diskusi ilmiah bertema “Syekh Yusuf: Dulu, Kini, dan Nanti” yang menghadirkan akademisi seperti Oman Fathurahman dan Mukhlis PaEni, hingga kegiatan penulisan mushaf Al-Qur’an oleh ratusan santri dalam program Khatmil Quran bil Kitabah.

Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan pameran manuskrip kuno yang masuk dalam program Memory of the World UNESCO, serta berbagai instalasi interaktif berbasis budaya.

Acara kemudian ditutup dengan penampilan musik religi dari Debu serta pembacaan puisi kebangsaan oleh Ferry Sandi yang menambah suasana khidmat.

Peringatan yang dihadiri sekitar seribu peserta ini juga diikuti oleh tamu kehormatan dari dalam dan luar negeri. Melalui momentum tersebut, Kementerian Kebudayaan berharap nilai moral dan semangat juang Syekh Yusuf terus menginspirasi generasi muda.

“Temuan ini menjadi pengingat penting bagi para pengambil kebijakan untuk melihat warisan tokoh bangsa sebagai bagian dari diplomasi budaya global,” tutup Fadli.