Bagikan:

JAKARTA - Sebuah gua kecil di tebing Henan, China, memberi petunjuk penting tentang manusia modern awal. Dari situs Xianrendong, peneliti menemukan hampir 400 pecahan tengkorak dan gigi manusia.

Melansir laporan China Daily, Selasa, 28 April, situs Xianrendong atau “Gua Immortal” berada di Kabupaten Lushan, Kota Pingdingshan, sekitar 800 kilometer di selatan Beijing. Situs ini ditemukan pada 2020 dan pada 2025 masuk daftar 10 temuan arkeologi terpenting di Henan.

Zhao Qingbo dari Institut Peninggalan Budaya dan Arkeologi Provinsi Henan mengatakan Xianrendong menyimpan fosil manusia modern awal tertua yang diketahui di Henan.

“Situs ini menghasilkan fosil manusia modern awal tertua yang diketahui di Provinsi Henan,” kata Zhao pada 9 April.

Satu pecahan tengkorak diperkirakan berusia 32.000 tahun. Dua lainnya berusia 12.000 dan 13.000 tahun. Namun jejak aktivitas manusia di gua itu jauh lebih tua, sekitar 70.000 tahun lalu. Lapisan sedimen tertuanya mencapai sekitar 120.000 tahun.

Menurut Zhao, temuan ini penting karena fosil Xianrendong berasal dari manusia modern awal, satu garis keturunan dengan manusia sekarang. Ini berbeda dengan temuan hominin sebelumnya di Henan, seperti Manusia Xuchang, Nanzhao, dan Luanchuan, yang bukan leluhur langsung manusia masa kini.

“Penemuan ini mengisi kekosongan dalam pemahaman kita tentang evolusi manusia modern awal di Henan dari 100.000 hingga 12.000 tahun lalu,” kata Zhao dikutip China Daily.

Selain fosil manusia, arkeolog menemukan 51 alat batu, termasuk pengikis, inti batu, serpih, dan bongkah. Alat itu dibuat dengan teknik batu tradisional China utara. Zhao menyebut pola itu menunjukkan kesinambungan teknologi di kawasan tersebut.

Gua ini juga memberi gambaran cara manusia purba bertahan hidup. Sekitar 70.000 tahun lalu, pada masa Zaman Es terakhir, manusia di China tengah belum membangun hunian buatan. Mereka memilih gua alami untuk berlindung dari hujan, angin, dan hewan liar.

“Xianrendong berada di tebing, memberi perlindungan alami dari angin dan hujan,” kata Zhang Shuimu dari Biro Warisan Budaya Kota Pingdingshan.

Namun gua itu tidak selalu layak dihuni. Pada masa awal, kondisinya terlalu lembap. Hewan baru mulai menempatinya pada masa yang lebih kering sekitar 100.000 tahun lalu.

Temuan fosil hewan di gua itu juga penting. Sisa-sisa tersebut akan membantu peneliti membaca apa yang diburu manusia purba, dari mana mereka mendapat makanan, dan bagaimana mereka menghadapi perubahan lingkungan.

Zhao menyebut kondisi ini berbeda dengan Eropa pada masa yang sama. Di sana, bangunan sederhana dari gading mamut sudah ditemukan. Di China, sisa bangunan serupa belum ditemukan.

Baru separuh area Xianrendong I yang digali. Luasnya hanya 24 meter persegi. Sisanya sengaja dibiarkan untuk peneliti masa depan dengan teknologi yang lebih baik.

Penelitian berikutnya akan mencakup morfologi tengkorak, protein purba, analisis serbuk sari, rekonstruksi lingkungan, dan DNA purba. Tim juga mulai menaruh perhatian pada Xianrendong II, gua yang lebih besar di lokasi itu, tempat fosil hewan berusia sekitar 40.000 tahun telah ditemukan.