Bagikan:

PACITAN - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyoroti besarnya nilai sejarah Museum Song Terus di Pacitan, Jawa Timur, yang menyimpan jejak kehidupan manusia hingga sekitar 300.000 tahun. Namun, potensi sebesar itu dinilai tidak boleh berhenti sebagai pajangan artefak semata.

Saat meninjau museum tersebut, Jumat, 27 Maret, Menbud Fadli menegaskan Song Terus harus dikembangkan menjadi pusat edukasi dan kebudayaan yang mampu menjelaskan perjalanan panjang peradaban manusia di Nusantara secara utuh dan mudah dipahami publik.

Menurut Menbud, kawasan Song Terus menyimpan bukti penting kesinambungan kehidupan manusia. Selain temuan budaya yang diperkirakan berusia hingga 300.000 tahun, di lokasi ini juga ditemukan manusia prasejarah yang dikenal sebagai Mbah Sayem dengan usia sekitar 8.500 tahun.

“Di museum ini kita bisa menyaksikan satu rangkaian perjalanan peradaban manusia di Pacitan, dari awal hingga manusia modern seperti sekarang,” ujar Fadli.

Ia mengingatkan, kekuatan Museum Song Terus terletak pada narasi besar yang dimilikinya. Karena itu, fungsi museum perlu diperkuat dengan fasilitas yang membuat masyarakat tidak hanya datang melihat benda, tetapi juga memahami maknanya. Menbud Fadli menyebut kebutuhan auditorium, pemutaran film 3D, hingga ruang pertunjukan seni budaya.

Penelitian di kawasan ini sudah berlangsung lama, dari masa kolonial oleh Von Koenigswald hingga arkeolog Indonesia, termasuk R.P. Suyono. Hasil penelitian itu kini menjadi dasar penyajian Museum Song Terus kepada publik.

Museum Song Terus dibangun dari temuan arkeologi di kawasan karst Pacitan, yang selama puluhan tahun dikenal penting dalam kajian prasejarah Indonesia. Temuannya mencakup alat batu, sisa fauna, dan jejak aktivitas manusia yang menunjukkan hunian berlangsung dalam waktu panjang.

Dalam kunjungan itu hadir Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta Sesditjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Wawan Yogaswara. Menbud Fadli menegaskan, Museum Song Terus harus hidup sebagai ruang belajar publik, bukan hanya ruang simpan sejarah.