JAKARTA - Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada Hari Senin mengatakan, Amerika Serikat tidak dapat menerima jika Iran "menentukan siapa yang berhak menggunakan jalur air internasional", merujuk pada Selat Hormuz dan upaya Tehran membangun status quo.
Negeri Para Mullah sebelumnya telah mengatakan akan membuka blokade selat tersebut sebagai bagian dari kesepakatan dengan Amerika Serikat, setelah perang gabungan AS-Israel terhadap Iran awal tahun ini.
Namun, Menlu Rubio mengatakan tawaran itu bukan tanpa maksud.
"Yang mereka maksud dengan membuka selat adalah, ‘Ya, selat dibuka selama Anda berkoordinasi dengan Iran, mendapatkan izin kami atau kami akan meledakkan Anda, dan Anda membayar kami.’ Itu bukan membuka selat; itu adalah jalur air internasional," jelas Menlu Rubio, melansir Al Arabiya (28/4).
"Mereka tidak dapat menormalisasi, dan kami juga tidak dapat mentolerir upaya mereka untuk menormalisasi, sistem di mana Iran memutuskan siapa yang berhak menggunakan jalur air internasional, dan berapa banyak yang harus Anda bayarkan kepada mereka untuk menggunakannya," urainya dalam wawancara dengan Fox News.
Menlu Rubio menyesalkan kenyataan kelompok garis keras "dengan visi apokaliptik tentang masa depan" memiliki kekuasaan tertinggi di Iran.
Ia menambahkan, status Pemimpin Tertinggi Iran yang baru (Mojtaba Khamenei), putra dari pemimpin sebelumnya (Ayatollah Ali Khamenei), masih belum jelas.
BACA JUGA:
"Sekarang kita memiliki pemimpin tertinggi yang kredibilitasnya masih belum teruji, aksesnya dipertanyakan, yang belum terlihat secara publik dan belum berbicara. Kita belum mendengar suaranya," tandasnya.