Bagikan:

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempelajari proposal baru Iran tentang penyelesaian perang dengan Teheran bersama para pembantu keamanan nasionalnya pada Hari Senin, saat konflik tersebut tetap buntu sementara pasokan energi dari Kawasan Timur Tengah berkurang.

Presiden Trump bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pada Senin pagi waktu setempat.

"Ada diskusi pagi ini yang tidak ingin saya ungkapkan lebih awal, dan Anda akan segera mendengar langsung dari presiden tentang topik ini," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, seperti melansir Al Arabiya dari Reuters (28/4).

Sumber-sumber Iran sebelumnya pada Hari Senin mengungkapkan proposal terbaru Teheran, yang akan menunda pembahasan program nuklir Iran hingga perang berakhir dan perselisihan mengenai pengiriman dari Teluk diselesaikan.

Hal itu kemungkinan tidak akan memuaskan Washington, yang mengatakan masalah nuklir Tehran harus ditangani sejak awal.

Upaya untuk menjembatani kesenjangan antara AS dan Iran tidak terhenti, kata sumber dari Pakistan sebagai mediator, meskipun tidak ada diplomasi tatap muka setelah Presiden Trump membatalkan kunjungan perwakilannya pada akhir pekan lalu.

Harapan untuk menghidupkan kembali upaya perdamaian telah memudar sejak Presiden AS akhir pekan ini mengumumkan Ia telah membatalkan kunjungan utusan khususnya Steve Witkoff dan menantunya Jared Kushner ke Islamabad, ibu kota Pakistan, tempat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berada selama akhir pekan.

Sumber-sumber senior Iran, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada Reuters, proposal yang dibawa Araghchi ke Islamabad pada akhir pekan lalu membayangkan pembicaraan secara bertahap, dengan isu nuklir dikesampingkan pada awalnya.

Langkah pertama akan membutuhkan pengakhiran perang AS-Israel di Iran dan memberikan jaminan bahwa Washington tidak dapat memulainya lagi. Kemudian para negosiator akan menyelesaikan blokade AS dan nasib Selat Hormuz, yang ingin dibuka kembali oleh Iran di bawah kendalinya.

Baru kemudian pembicaraan akan membahas isu-isu lain, termasuk perselisihan yang telah lama terjadi mengenai program nuklir Iran, dengan Iran masih mencari semacam pengakuan AS atas haknya untuk memperkaya uranium untuk apa yang dikatakannya sebagai tujuan damai.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan dia berpikir Iran mencoba untuk mengulur waktu.

"Kita tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja," katanya dalam sebuah wawancara dengan Fox News.

"Mereka adalah negosiator yang sangat baik. Mereka adalah negosiator yang sangat berpengalaman. Kita harus memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dibuat, setiap perjanjian yang dibuat, adalah kesepakatan yang pasti mencegah mereka untuk bergegas menuju senjata nuklir kapan pun," urai Menlu Rubio.

Menlu Araghchi juga mengunjungi Oman dan pada Hari Senin pergi ke Rusia, di mana ia bertemu Presiden Vladimir Putin dan menerima dukungan dari sekutu lamanya.

Menlu Araghchi mengatakan kepada wartawan di Rusia, Presiden Trump telah meminta negosiasi karena AS belum mencapai satupun tujuannya.

Para pejabat Pakistan mengatakan negosiasi masih berlangsung secara jarak jauh, tetapi tidak ada rencana untuk mengadakan pertemuan tatap muka sampai kedua pihak cukup dekat untuk menandatangani memorandum.

Meskipun gencatan senjata telah menghentikan serangan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari, belum ada kesepakatan yang tercapai mengenai syarat-syarat untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang, menaikkan harga minyak, memicu inflasi, dan memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global.