Bagikan:

JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengunjungi Museum of Art Pudong (MAP) di Shanghai, Sabtu, 25 April. Kunjungan ini dipakai untuk melihat cara museum modern mengelola pameran besar, menarik publik, dan membangun kerja sama dengan institusi seni dunia.

Di MAP, Fadli meninjau dua pameran, yakni Picasso Through the Eyes of Paul Smith dan The Wonder of Patterns: Masterpieces from India, Iran and the Ottoman World.

Menurut Fadli, museum hari ini tidak cukup hanya menjadi tempat menyimpan karya. Museum harus mampu menghidupkan cerita, membuka dialog budaya, dan membuat publik merasa dekat dengan seni.

“Museum dapat menjadi ruang dialog lintas budaya, lintas zaman, dan lintas disiplin, yang mempertemukan seni rupa, desain, sejarah, warisan budaya, dan pengalaman publik secara kreatif,” kata Fadli dalam keterangan tertulis yang diterima VOI di Jakarta, Minggu, 26 April.

Ia menilai MAP memberi gambaran penting bagi pengelolaan museum modern. Museum itu membangun jejaring global melalui pameran bersama dan kerja sama dengan institusi besar dunia, termasuk Louvre dan Musée Picasso.

“MAP memberi contoh penting bagaimana museum dapat memperkuat jejaring global melalui joint exhibition dan kerja sama dengan museum-museum mitra dunia,” ujar Fadli.

MAP dibuka pada 2021 di kawasan Lujiazui, Shanghai. Museum ini dikenal sebagai salah satu museum seni modern yang aktif menghadirkan pameran internasional dan menggandeng sejumlah institusi seni terkemuka dunia.

Fadli mengatakan Kementerian Kebudayaan ingin memperkuat ekosistem seni rupa Indonesia. Fokusnya mencakup kualitas kuratorial, kerja sama antarmuseum, pertukaran koleksi, program residensi, pengembangan talenta, dan perluasan akses publik.

Bagi Indonesia, pelajaran dari kunjungan ke MAP penting agar museum tidak hanya hidup saat ada acara besar. Museum perlu punya program kuat, jejaring luas, dan cara bercerita yang membuat karya seni lebih mudah dipahami publik.