Bagikan:

JAKARTA - Hampir 8.000 orang meninggal atau hilang di jalur migrasi tahun lalu, dengan jalur laut ke Eropa sebagai yang paling mematikan, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB mengatakan bahwa banyak korban hilang dalam "kecelakaan kapal yang tak terlihat," saat merilis angka baru dalam sebuah laporan pada hari Selasa.

"Angka-angka ini menjadi bukti kegagalan kolektif kita untuk mencegah tragedi ini," kata Maria Moita, yang memimpin departemen kemanusiaan dan respons badan PBB tersebut, dalam konferensi pers, dilansir dari Al Jazeera (22/4).

Angka 7.904 orang yang dihitung PBB sebagai meninggal atau hilang pada tahun 2025 merupakan penurunan dari angka tertinggi sepanjang masa yaitu 9.197 pada tahun 2024, kata IOM dalam laporannya.

Namun, IOM menambahkan bahwa penurunan tersebut sebagian disebabkan oleh 1.500 kasus yang dicurigai yang tidak terverifikasi karena pemotongan bantuan.

Adapun jumlah total kematian sejak 2014 melebihi 82.000 jiwa, dengan sekitar 340.000 anggota keluarga diperkirakan terkena dampak langsung.

Lebih dari empat dari setiap 10 kematian dan kehilangan terjadi di jalur laut menuju Eropa, lapor IOM.

"Di Eropa, kedatangan secara keseluruhan menurun, tetapi profil pergerakan berubah, dengan warga negara Bangladesh menjadi kelompok terbesar yang tiba sementara kedatangan warga Suriah menurun setelah pergeseran politik dan kebijakan," demikian bunyi laporan tersebut.

Banyak kasus merupakan apa yang disebut "kecelakaan kapal tak terlihat", di mana seluruh kapal hilang di laut dan tidak pernah ditemukan.

Rute Afrika Barat ke utara menyumbang 1.200 kematian, sementara Asia melaporkan jumlah kematian tertinggi, termasuk ratusan pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar atau penderitaan di kamp pengungsi yang padat di Bangladesh.

Organisasi tersebut menekankan, data menunjukkan rute migrasi "bergeser daripada mereda, dengan risiko tetap tinggi di sepanjang perjalanan yang semakin berbahaya."

"Rute migrasi berubah sebagai respons terhadap konflik, tekanan iklim, dan perubahan kebijakan, tetapi risikonya masih sangat nyata," kata Direktur Jenderal IOM Amy Pope.

"Di balik angka-angka ini terdapat orang-orang yang melakukan perjalanan berbahaya dan keluarga yang menunggu kabar yang mungkin tidak akan pernah datang," tambahnya.