JAKARTA – Di tengah berkembangnya tren drone di Indonesia, muncul sebuah komunitas unik yang memadukan adrenalin, kreativitas, dan eksplorasi lokasi ekstrem. Mereka adalah Bando Brothers FPV, komunitas FPV freestyle yang dikenal gemar menjelajahi bangunan terbengkalai sebagai arena terbang.
Berbeda dengan pengguna drone pada umumnya yang fokus pada fotografi udara atau videografi sinematik, komunitas ini mengusung gaya freestyle FPV—teknik menerbangkan drone dengan manuver cepat, presisi tinggi, dan penuh improvisasi.

Bangunan terbengkalai atau yang kerap disebut “bando” (dari asal kata "abandoned") menjadi lokasi favorit karena menawarkan tantangan teknis sekaligus visual yang unik.
Legia, atau dikenal dengan @airwizzard bersama Hanip @iflyquad, founder Bando Brothers FPV menjelaskan bahwa lokasi terbengkalai memberikan “line” atau jalur terbang yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Karena eksplorasi menggunakan drone FPV di dalam bangunan terbengkalai dengan manuver akrobatik "freestyle" juga dapat memberikan experience unik tersendiri baik bagi penghobi drone maupun penonton pada umumnya.

“Di bando itu semuanya tidak terduga—struktur rusak, ruang sempit, hingga obstacle acak. Justru itu yang bikin freestyle jadi lebih hidup,” ujar Legia, kepada VOI, Minggu, 19 April 2026.
Selain sebagai sarana menyalurkan hobi, aktivitas ini juga menuntut kemampuan tinggi dalam mengontrol drone. Risiko seperti sinyal terputus, tabrakan, hingga kerusakan perangkat menjadi hal yang sudah biasa dihadapi.
Namun demikian, komunitas ini tidak sembarangan dalam memilih lokasi. Mereka tetap mempertimbangkan faktor keamanan serta menghindari area yang berpotensi membahayakan orang lain.
"Izin itu yang utama. Ga diizinin, kita ngga terbang." sambung Legia.

Hanip menambahkan, meskipun terbang di tempat yang sudah rusak ataupun ditinggalkan, Bando Brothers FPV tetap mengedepankan safety dan juga permit (izin) kepada pengelola atau masyarakat setempat disekitar bando itu berada.
Fenomena FPV freestyle sendiri mulai berkembang pesat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya akses terhadap perangkat drone dan munculnya komunitas-komunitas lokal. Bando Brothers FPV menjadi salah satu representasi dari subkultur ini yang menggabungkan olahraga, seni, teknologi, dan eksplorasi urban.
Tak hanya sekadar hobi, aktivitas mereka juga kerap didokumentasikan dalam bentuk video yang diunggah ke media sosial.

Visual ekstrem dari dalam bangunan terbengkalai memberikan daya tarik tersendiri bagi penonton, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk brand dan industri kreatif.
Ke depan, Bando Brothers FPV berharap dapat terus mengembangkan komunitas sekaligus memperkenalkan FPV freestyle kepada masyarakat luas.
“Kami ingin orang tahu kalau ini bukan sekadar main drone. Ini kombinasi skill, kreativitas, adrenalin dan eksplorasi,” pungkas Hanip.