Bagikan:

JAKARTA - Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengatakan dirinya mendesak China untuk meningkatkan upaya dalam membantu mengakhiri perang di Ukraina serta menggunakan pengaruhnya terhadap Moskow guna mendorong negosiasi yang serius.

Dilansir ANTARA dari laporan Anadolu, Jumat, 17 April,Tajani menyampaikan ia telah secara langsung mengangkat isu tersebut kepada Menteri Luar Negeri China Wang Yi, dengan menekankan perlunya peran China yang lebih kuat dalam mendukung perdamaian dan stabilitas di Ukraina.

“Saya secara eksplisit meminta Menteri Luar Negeri Wang Yi untuk secara kuat mendukung upaya Beijing dalam membawa perdamaian dan stabilitas ke Ukraina. Saya berharap China dapat berbuat lebih banyak untuk meyakinkan Presiden Putin agar bernegosiasi secara serius,” kata Tajani.

Menteri luar negeri Italia itu tiba di Beijing,Kamis (16/4) sebagai bagian awal kunjungannya ke China, yang akan berlanjut ke Shanghai pada Jumat.

Ia juga menyoroti ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk Iran, Selat Hormuz, dan Lebanon, dengan menyatakan gencatan senjata sementara dapat membantu membuka jalan menuju pengaturan perdamaian yang lebih luas.

“Untuk mengakhiri perang-perang ini, kita harus terlebih dahulu mengonsolidasikan gencatan senjata yang dapat mengarah pada kondisi perdamaian yang lebih stabil,” ujarnya, seraya menambahkan usulan gencatan senjata selama 10 hari di Lebanon merupakan “cara yang tepat untuk memulai kembali di Timur Tengah.”

Terkait Iran, Tajani menyampaikan harapan yang berhati-hati terhadap tercapainya kesepahaman jangka panjang antara Washington dan Teheran, sambilmemperingatkan dampak ekonomi dari ketidakstabilan yang berkelanjutan, khususnya terhadap pasar energi dan pertanian.

“Saya berharap ini dapat bertahan, demi keselamatan banyak warga sipil yang tidak bersalah dan pemulihan ekonomi global. Kita membayar harga yang sangat mahal,” katanya.

Menteri tersebut juga kembali menegaskan dukungan terhadap integrasi pertahanan Eropa dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), serta menepis spekulasi mengenai penarikan besar-besaran pasukan Amerika Serikat dari Eropa sebagai sesuatu yang “tidak realistis.”