Bagikan:

JAKARTA - Jepang mencatat emisi gas rumah kaca terendah sejak tahun fiskal 2013. Namun, capaian itu belum cukup. Melansir Kyodo News, Selasa, 14 April, emisi efektif Jepang pada tahun fiskal 2024 tetap berada 15 juta ton di atas rencana tahunan pemerintah, sehingga target sementara kembali meleset.

Hingga Maret 2025, emisi efektif Jepang tercatat setara 994 juta ton karbon dioksida. Angka ini turun 28,7 persen dibanding tahun fiskal 2013 dan untuk pertama kalinya berada di bawah 1 miliar ton. Meski begitu, Jepang tetap gagal memenuhi sasaran tahunannya. Ini menjadi kegagalan kedua sejak tahun fiskal 2022.

Pejabat Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mengatakan penurunan emisi memang naik turun dari tahun ke tahun, tetapi tren umumnya masih menurun dan dinilai tetap berada di jalur menuju target akhir.

Jepang menargetkan emisi nol bersih pada 2050. Untuk sampai ke sana, negara itu membidik pengurangan emisi efektif sebesar 60 persen pada 2035 dan 73 persen pada 2040, dibandingkan dengan level 2013. Emisi efektif di sini adalah emisi setelah dikurangi serapan karbon dari hutan dan sumber alami lain.

Menteri Lingkungan Hidup Jepang Hirotaka Ishihara dikutip Kyodo News mengatakan telah meminta pihak terkait memperkuat dan memperbaiki langkah-langkah yang ada agar target penurunan emisi bisa tercapai.

Dalam laporannya Kyodo News menyebut, salah satu masalahnya ada pada daya serap alam yang mulai melambat. Menurut kementerian, serapan karbon oleh hutan daratan turun menjadi 52,30 juta ton pada tahun fiskal 2024 dibanding tahun sebelumnya. Penyebabnya, usia pohon-pohon di Jepang makin tua. Sementara itu, serapan karbon dari ekosistem pesisir dan laut nyaris tidak berubah, tetap di kisaran 320.000 ton.

Data ini menunjukkan penurunan emisi Jepang masih berlanjut, tetapi lajunya tidak cukup untuk memenuhi target tahunan. Di saat yang sama, serapan karbon oleh hutan juga melambat karena penuaan pohon.