JAKARTA - Dewan Keamanan PBB dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada Selasa atas rancangan resolusi untuk melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz. Namun, naskah itu kini jauh lebih lunak setelah China menolak pemberian wewenang penggunaan kekuatan.
Arab News dalam laporannya yang dikutip Selasa, 7 April menyebut, perubahan itu terjadi setelah upaya Bahrain, selaku ketua Dewan Keamanan saat ini, menghadapi penolakan dari China, Rusia, dan pihak lain. Versi terbaru rancangan resolusi, yang juga dilihat Reuters, menghapus otorisasi eksplisit atas penggunaan kekuatan.
Sebagai gantinya, teks resolusi hanya mendorong negara-negara yang berkepentingan di jalur niaga Selat Hormuz untuk mengoordinasikan langkah-langkah defensif sesuai situasi. Dalam draf itu, langkah tersebut bisa mencakup pengawalan kapal dagang dan kapal niaga, serta upaya mencegah penutupan atau gangguan terhadap navigasi internasional.
Versi yang sudah diperlunak ini dinilai memiliki peluang lebih besar untuk lolos. Namun hasil akhirnya masih belum pasti. Resolusi itu memerlukan sedikitnya sembilan suara setuju dan tidak boleh diveto oleh lima anggota tetap, yakni Inggris, China, Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat.
BACA JUGA:
Sebelumnya, Bahrain sempat mengedarkan rancangan yang memberi ruang bagi “segala cara defensif yang diperlukan” untuk melindungi pelayaran komersial. Namun pemungutan suara atas naskah tersebut ditunda pada Jumat dan Sabtu. Sebelum itu, Bahrain juga sudah lebih dulu mencoret rujukan eksplisit soal penegakan yang mengikat.
Harga minyak sendiri sudah melonjak sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari. Konflik yang kini telah berlangsung lebih dari lima pekan itu membuat Teheran sebagian besar menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi lalu lintas energi dunia.
China menjadi penentang paling keras terhadap opsi yang mengandung unsur kekuatan. Masih merujuk laporan Arab News disebut, Beijing menilai langkah semacam itu hanya akan melegitimasi penggunaan kekuatan secara melanggar hukum dan memperburuk situasi.
Di saat yang sama, Iran mengatakan ingin perang diakhiri secara permanen, tetapi tetap menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan Iran bisa “dihabisi” jika tidak memenuhi tenggat Selasa malam untuk mencapai kesepakatan.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi, setelah berbicara dengan mitranya dari Rusia, mengatakan China siap terus bekerja sama dengan Moskwa di Dewan Keamanan. Menurut Wang Yi, jalan paling mendasar untuk menyelesaikan persoalan Selat Hormuz adalah mencapai gencatan senjata secepat mungkin.