Bagikan:

JAKARTA - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran pada Hari Senin mengatakan, Tehran telah merumuskan posisi dan tuntutannya sebagai tanggapan terhadap usulan gencatan senjata baru-baru ini yang disampaikan melalui perantara, menambahkan bahwa negosiasi "tidak sesuai dengan ultimatum dan ancaman untuk melakukan kejahatan perang."

Iran terlibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, seiring dengan serangan ke Tehran dan sejumlah kota lainnya di negara itu pada 28 Februari yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior lainnya.

Juru bicara Esmaeil Baghaei mengatakan, Tehran memiliki serangkaian persyaratan berdasarkan kepentingan nasionalnya yang telah disampaikan melalui saluran perantara, menambahkan tuntutan AS sebelumnya seperti rencana 15 poin ditolak karena dianggap "berlebihan."

"Iran tidak ragu untuk secara jelas menyatakan apa yang dianggapnya sebagai tuntutan yang sah dan hal itu tidak boleh diartikan sebagai tanda kompromi, tetapi lebih sebagai cerminan kepercayaan diri dalam mempertahankan posisinya," kata Baghaei dalam konferensi pers, seperti melansir Al Arabiya dari Reuters (6/4).

"Kami telah merumuskan tanggapan kami sendiri" dan akan mengumumkan detailnya pada waktunya, tambahnya menanggapi pertanyaan seorang jurnalis Iran mengenai upaya yang sedang berlangsung untuk mewujudkan gencatan senjata antara Iran dan AS.

Menanggapi serangan 28 Februari, Negeri Para Mullah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Selain itu, Iran juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz, jalur air yang menjadi salah satu urat nadi transportasi minyak dan gas global.

Diberitakan sebelumnya, Iran dan AS telah menerima rencana untuk mengakhiri permusuhan yang dapat mulai berlaku pada Hari Senin dan membuka kembali Selat Hormuz, kata sumber yang mengetahui proposal tersebut pada Hari Senin.

Kerangka kerja untuk mengakhiri permusuhan telah disusun oleh Pakistan dan dipertukarkan dengan Iran dan AS semalam, kata sumber tersebut, yang menguraikan pendekatan dua tahap dengan gencatan senjata segera diikuti oleh perjanjian komprehensif.

"Semua elemen perlu disepakati hari ini," kata sumber tersebut, menambahkan pemahaman awal akan disusun sebagai nota kesepahaman yang diselesaikan secara elektronik melalui Pakistan, satu-satunya saluran komunikasi dalam pembicaraan tersebut.

Axios pertama kali melaporkan pada Hari Minggu, Washington, Tehran dan mediator regional sedang membahas potensi gencatan senjata 45 hari sebagai bagian dari kesepakatan dua tahap yang dapat mengarah pada pengakhiran permanen perang, mengutip sumber-sumber AS, Israel, dan regional.

Sumber tersebut mengatakan kepada Reuters, Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, telah melakukan kontak "sepanjang malam" dengan Wakil Presiden AS JD Vance, Utusan Khusus Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Berdasarkan proposal tersebut, gencatan senjata akan berlaku segera, membuka kembali Selat Hormuz, dengan waktu 15-20 hari untuk menyelesaikan kesepakatan yang lebih luas.

Kesepakatan tersebut, yang untuk sementara disebut "Kesepakatan Islamabad," akan mencakup kerangka kerja regional untuk selat tersebut, dengan pembicaraan tatap muka terakhir di Islamabad.

Tidak ada tanggapan langsung dari AS. Sedangkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menolak berkomentar.

Sementara itu, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Hari Senin, Negeri Para Mullah Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas "gencatan senjata sementara," menambahkan Teheran memandang Washington kurang siap untuk gencatan senjata permanen.

Pejabat tersebut mengonfirmasi Iran telah menerima proposal Pakistan untuk gencatan senjata segera dan sedang meninjaunya, menambahkan Tehran tidak menerima tekanan untuk menerima tenggat waktu dan membuat keputusan.

Para pejabat Iran sebelumnya telah mengatakan kepada Reuters, Tehran berupaya mencapai gencatan senjata permanen dengan jaminan mereka tidak akan diserang lagi oleh AS dan Israel.

Mereka mengatakan Iran telah menerima pesan dari mediator termasuk Pakistan, Turki, dan Mesir.