Bagikan:

JAKARTA - Korea Selatan menyiapkan langkah diplomatik dan darurat untuk mengamankan pasokan minyak mentah setelah Selat Hormuz, jalur penting pengiriman energi dunia, secara efektif tertutup di tengah perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Kyodo News yang dikutip Senin, 6 April melaporkan, Partai Demokrat yang berkuasa dan pemerintah Korea Selatan pada Senin sepakat mengupayakan pengiriman utusan khusus ke Arab Saudi, Oman, dan Aljazair. Langkah itu ditempuh untuk menjaga pasokan minyak mentah tetap aman di tengah gangguan jalur utama pengiriman.

Anggota parlemen Ahn Do-geol mengatakan pemerintah dan partai berkuasa sedang berkonsultasi dengan negara-negara yang memiliki rute alternatif. Selain itu, mereka juga sepakat meningkatkan upaya diplomatik guna menstabilkan pasokan minyak mentah, termasuk lewat pengiriman utusan ke tiga negara tersebut.

Menurut Ahn, otoritas Korea Selatan juga sedang mendorong pengiriman lima kapal berbendera Korea ke Yanbu, kota pelabuhan Arab Saudi di pesisir Laut Merah.

Dalam rapat konsultatif di Majelis Nasional, para pejabat juga membahas pelepasan cadangan strategis minyak negara kepada perusahaan penyulingan swasta untuk mengatasi potensi kekurangan pasokan.

“Pemerintah pertama-tama akan memasok cadangan strategis minyak kepada perusahaan penyulingan swasta dan kemudian melakukan skema pertukaran setelah kiriman dari luar negeri tiba di Korea,” kata Ahn dikutip dari Kyodo News.

Selain minyak mentah, pemerintah juga memantau pasokan nafta. Ahn mengatakan pemerintah melakukan pemeriksaan intensif setiap hari terhadap rantai pasok di 50 industri utama setelah gangguan di dalam negeri meningkat menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Nafta merupakan bahan baku penting yang banyak digunakan dalam industri petrokimia dan sektor lainnya.