JAKARTA - Korea Selatan menaikkan status kewaspadaan ketahanan energinya ke level tertinggi kedua setelah pasokan minyak dari Timur Tengah mulai terganggu. Mengutip Anadolu Agency (AA), Kamis, 2 April, pemerintah Seoul menilai gangguan itu kini bukan lagi sekadar ancaman di pasar, melainkan sudah mulai terasa pada pasokan riil di dalam negeri.
Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan menyatakan status siaga baru itu berlaku mulai tengah malam Rabu. Keputusan diambil setelah perang di Timur Tengah berlangsung sebulan dan harga minyak dunia terus bergerak liar.
Pemerintah menyebut gangguan pasokan domestik mulai nyata seiring terhentinya impor minyak mentah melalui Selat Hormuz selama lebih dari 10 hari sejak jalur itu secara efektif ditutup pada 1 Maret. Kapal tanker terakhir dari selat tersebut tiba di Korea Selatan pada 20 Maret.
Masih melansir AA, Ketergantungan Seoul pada kawasan itu memang besar. Pada 2024, sekitar 55 persen produk energi Korea Selatan berasal dari Timur Tengah, dengan nilai mencapai sekitar 144 miliar dolar AS. Itu sebabnya setiap gangguan di Hormuz langsung memukul perhitungan energi negara tersebut.
BACA JUGA:
Ketegangan kawasan meningkat sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari. Menurut laporan itu, serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan itu menimbulkan korban jiwa, merusak infrastruktur, dan ikut mengganggu pasar global serta penerbangan. Sedikitnya 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam konflik yang masih berlangsung.
Dalam situasi ini, Iran disebut masih memegang kendali efektif atas Selat Hormuz, jalur vital pasokan energi bagi banyak negara Asia. Teheran hanya mengizinkan kapal dari negara-negara yang disebutnya sebagai “negara sahabat” untuk melintas.
Pekan lalu, seperti dikutip dari AA, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun meminta Iran menjamin keselamatan pelayaran di selat itu. Duta Besar Iran untuk Seoul, Saeed Koozechi, mengatakan kapal Korea Selatan tetap bisa melintasi Hormuz, tetapi harus lebih dulu berkoordinasi dengan otoritas Iran.