Bagikan:

JAKARTA - Blokade Iran di Selat Hormuz kini benar-benar mengganggu jalur energi dunia. Sedikitnya 2.190 kapal niaga tertahan di kawasan Teluk hingga Rabu, termasuk lebih dari 320 kapal tanker minyak dan gas. Lalu lintas yang biasanya padat mendadak seret. Dalam dua hari, hanya enam kapal yang bisa melintas.

Data maritim terbaru menunjukkan seperti dikutip dari Arab News, Kamis, 2 April, jumlah itu anjlok jauh dari kondisi normal yang mencapai sekitar 120 kapal per hari pada masa damai. Kapal yang tertahan mencakup 12 pengangkut gas raksasa dan 50 kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar. Yang macet bukan sekadar pelayaran, melainkan salah satu jalur utama pasokan energi dunia.

Arab News menulis, Iran kini menekan ketat jalur itu, yang biasanya dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas dunia. Angka itu cukup menjelaskan mengapa dunia ikut tegang. Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekali tersendat, dampaknya bisa menjalar ke banyak negara.

Kapal yang diizinkan melintas diarahkan lewat koridor khusus dekat Pulau Larak, di lepas pantai Iran. Namun jalur itu tidak terbuka lebar untuk semua. Lloyd’s List mencatat sedikitnya 48 kapal telah memakai rute tersebut sejak pekan lalu, dan sebagian besar terkait Iran atau negara yang punya hubungan baik dengan Teheran.

Masalah tidak berhenti di situ. Sejumlah pemilik kapal yang lolos disebut harus membayar biaya hingga 2 juta dolar AS. Pungutan itu bahkan dijuluki “tol Teheran”. Meski begitu, Iran memberi sinyal biaya itu bisa dibebaskan untuk negara sahabat seperti Malaysia.

Arab News juga melaporkan, Pemerintah Malaysia menyebut kapal milik Petronas, Sapura Energy, dan MISC masih menunggu izin. China juga mengonfirmasi sedikitnya tiga kapalnya sudah berhasil melintas setelah berkoordinasi dengan pihak terkait. Dua kapal kontainer China bahkan baru bisa keluar dari Teluk pada percobaan kedua.

Di tengah situasi itu, sebagian awak kapal memilih cara berisiko yaitu berlayar malam hari atau mematikan transponder pelacak untuk menghindari ancaman ranjau, rudal, dan drone. Arab News juga mencatat, ekspor energi dari produsen besar seperti Arab Saudi dan Qatar pada praktiknya masih terhenti.

Dan, bukan hanya kapal yang terjebak. Sekitar 20.000 pelaut juga masih tertahan di dalam dan sekitar Teluk. Inggris mulai mendorong pembicaraan dengan sekitar 35 negara. China dan Pakistan menyerukan gencatan senjata. Sementara Presiden AS Donald Trump kembali menuntut Iran membuka blokade, disertai ancaman aksi militer bila Teheran tetap menutup jalur itu.