JAKARTA - Sebanyak 18 negara di Eropa mendesak Israel menghentikan operasi militernya memperluas kawasan pendudukan di Lebanon selatan.
Belasan negara di Eropa itu mengecam peningkatan kekerasan di Lebanon yang telah membuat 1,2 juta penduduknya atau sekitar 25 persen total populasi Lebanon mengungsi.
"Operasi militer Israel di Lebanon dan serangan Hizbullah harus dihentikan. Kami mendesak Israel untuk sepenuhnya menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon," ujar pernyataan bersama 18 negara di Eropa pada Kamis 2 April dikutip dari situs Kantor Pemerintahan Belgia.
Adapun 18 negara yang menerbitkan pernyataan bersama mengenai situasi di Lebanon ini, yaitu Austria, Belgia, Kroasia, Siprus, Estonia, Finlandia, Islandia, Italia, Irlandia, Latvia, Luksemburg, Moldova, Norwegia, Polandia, San Marino, Slovenia, Spanyol, dan Swedia.

Mereka prihatin dengan konflik di Timur Tengah tersemasuk situasi kemanusiaan di Lebanon.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 1.000 orang telah tewas sejauh ini, sebagian besar adalah warga sipil, termasuk anak-anak, pekerja bantuan, dan jurnalis.
"Kami mengingatkan kewajiban Israel untuk sepenuhnya mematuhi hukum humaniter internasional, termasuk prinsip pembedaan, proporsionalitas, dan kehati-hatian, dan menekankan pentingnya perlindungan warga sipil dan objek sipil. Serangan terhadap warga sipil, petugas kesehatan, pekerja bantuan, jurnalis, infrastruktur dan fasilitas sipil tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat diterima. Serangan tersebut harus segera dihentikan," kata pernyataan.
Belasan negara Eropa itu juga mendorong investigasi independen untuk memastikan akuntabilitas terkait tingginya potensi pelanggaran HAM di tengah invasi Israel di Lebanon.
"Kami juga menyerukan akses kemanusiaan yang penuh, aman, dan tanpa hambatan kepada semua penduduk yang terdampak," demikian penyataan tersebut.