YOGYAKARTA – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan kunjungan kerja ke Grand Hotel De Djokja pada Minggu (29/3/2026). Kunjungan ini bertujuan meninjau progres akhir revitalisasi kamar bersejarah yang pernah ditempati oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman pada tahun 1946.
Dalam tinjauannya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa kamar tersebut bukan sekadar fasilitas akomodasi, melainkan simbol perjuangan Indonesia. Kamar yang kini menjadi bagian dari unit utama hotel tersebut sedang dipugar untuk mengembalikan kejayaannya tanpa menghilangkan nilai historisnya.
"Ruang ini adalah bagian dari memori kolektif bangsa. Kita harus memastikan bahwa revitalisasi tidak hanya memperindah fisik, tetapi juga menguatkan identitas sejarah yang melekat," ujar Fadli Zon.
Revitalisasi Cagar Budaya Berbasis Heritage
Grand Hotel De Djokja, yang dibangun sejak 1911, merupakan salah satu bangunan cagar budaya paling ikonik di Yogyakarta. Saat ini, hotel tersebut dikelola oleh InJourney Hospitality (BUMN) dengan konsep heritage hotel.
Beberapa poin utama dalam proyek revitalisasi ini meliputi:
- Pelestarian Sejarah: Mempertahankan tata letak dan artefak penting di kamar Jenderal Sudirman.
- Autentisitas Arsitektur: Menjaga langgam bangunan asli peninggalan era kolonial.
- Keseimbangan Ekonomi: Mengubah bangunan sejarah menjadi aset produktif yang relevan secara bisnis namun tetap edukatif.
BACA JUGA:
Sinergi BUMN dan Seniman
Turut hadir dalam kunjungan tersebut Direktur Utama InJourney Hospitality, Christine Hutabarat, beserta jajaran manajemen dan sejumlah seniman terkemuka Indonesia. Kehadiran para seniman diharapkan dapat memberikan masukan estetika agar hotel ini mampu menjadi ruang apresiasi budaya bagi masyarakat luas.
Fadli Zon berharap Grand Hotel De Djokja dapat menjadi benchmark atau contoh praktik terbaik dalam pelestarian bangunan bersejarah di Indonesia. Ia menginginkan hotel ini berfungsi ganda: sebagai destinasi wisata premium sekaligus ruang edukasi sejarah.