Bagikan:

YOGYAKARTA - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyoroti perubahan wajah Museum Perjuangan Yogyakarta yang kini menyajikan sejarah perjuangan bangsa secara lebih imersif. Menurut Menbud, cara itu penting agar perjalanan Indonesia dari masa kebangkitan nasional hingga mempertahankan kemerdekaan tidak berhenti sebagai cerita lama yang jauh dari generasi muda.

Saat meninjau museum itu pada Sabtu, 28 Maret, Fadli melihat langsung revitalisasi pameran yang kini dibuat lebih kontekstual dan komunikatif. Ia menilai pendekatan itu membuat sejarah lebih mudah ditangkap pengunjung.

“Di museum ini kita bisa menyaksikan perjalanan perjuangan bangsa, mulai dari lahirnya Budi Utomo hingga Proklamasi Kemerdekaan dan masa mempertahankan NKRI, yang kini disajikan secara imersif dan lebih mudah dipahami,” kata Fadli.

Ia juga menyinggung posisi penting Yogyakarta dalam sejarah nasional, termasuk saat menjadi ibu kota negara pada 1946 dan ketika menghadapi agresi militer Belanda. Menurut dia, jejak itu tergambar kuat dalam narasi yang dibangun museum.

Fadli menilai kekuatan museum ini tidak hanya ada pada cerita, tetapi juga pada koleksi artefak, diorama, dan relief karya Edhi Sunarso yang membuat sejarah terasa lebih hidup.

“Generasi muda perlu melihat langsung bagaimana sejarah perjuangan bangsa disajikan di sini, karena museum ini menghadirkan cerita yang lebih dekat dan mudah dicerna,” ujarnya.

Museum Perjuangan Yogyakarta digagas Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 1958 untuk memperingati 50 tahun Kebangkitan Nasional. Pembangunannya dimulai pada 1959 dan selesai pada 1961. Museum ini memiliki bangunan utama berbentuk lingkaran dan 40 relief semen pasir karya Edhi Sunarso yang menggambarkan perjalanan sejarah bangsa dari masa pergerakan nasional hingga kemerdekaan.

Saat ini, museum tersebut menyimpan memorabilia, patung tokoh bangsa, serta pameran tematik yang terus diperbarui, dan dikelola Kementerian Kebudayaan melalui Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya.