Bagikan:

YOGYAKARTA - Dalam kunjungan kerjanya ke Yogyakarta, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya kemitraan publik-swasta atau public-private partnership (PPP) untuk memperkuat pengelolaan museum dan bangunan cagar budaya agar lebih berkelanjutan dan diminati masyarakat.

Menbud Fadli menyampaikan hal itu saat mengunjungi Museum Sandi dan Dalem Jayadipuran, dua lokasi bersejarah di Yogyakarta yang menjadi bagian dari persiapan perayaan Hari Kebudayaan 2025, Kamis, 16 Oktober.

Di Museum Sandi, Fadli disambut Kepala Biro Hukum dan Komunikasi BSSN, Brigjen TNI Berty B.W. Sumakud, dan melakukan koordinasi strategis terkait pemajuan serta pemanfaatan museum dan situs budaya.

Menurut Fadli, Museum Sandi memiliki nilai sejarah yang penting karena menjadi saksi perjuangan para tokoh sandi negara dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dulu para tokoh seperti Pak Rubiono Kertapati, Bapak Persandian Negara, mengirimkan pesan-pesan perjuangan melalui sandi hingga ke perwakilan kita di New York. Itu bentuk diplomasi perjuangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, museum ini sudah memiliki tata pamer dan storyline yang menarik, sehingga perlu terus dipromosikan agar semakin banyak masyarakat yang berkunjung. “Kita bisa belajar banyak dari museum ini. Semoga makin banyak pengunjung yang datang,” kata Fadli.

Fadli juga mengajak lembaga di bawah BSSN, serta Polri, TNI, dan pemerintah daerah untuk ikut aktif mengembangkan museum agar lebih kreatif dan mandiri.

“Salah satu langkah penting memajukan museum adalah melalui skema public-private partnership. Kita perlu dukungan sektor swasta melalui pembentukan dewan pengelola bersama,” tegasnya.

Selepas dari Museum Sandi di kawasan Kotabaru, Fadli melanjutkan kunjungan ke Dalem Jayadipuran, bangunan cagar budaya yang kini menjadi kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X. Gedung ini dulunya rumah K.R.T. Jayadipura dan menjadi lokasi bersejarah penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22–25 Desember 1928.

Ikut mendampingi Fadli Zon antara lain Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Direktur Sejarah dan Permuseuman Agus Mulyana, Kepala Museum dan Cagar Budaya Abi Kusno, serta jajaran Kementerian Kebudayaan.

Melalui skema kemitraan publik-swasta, Kementerian Kebudayaan berupaya menjadikan museum dan cagar budaya sebagai ruang hidup yang berdaya, berkelanjutan, dan mencerminkan semangat kebudayaan nasional.