SURAKARTA - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menegaskan K.H. Samanhudi bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan perintis gerakan rakyat yang meletakkan dasar perlawanan terhadap kolonialisme dari jalur ekonomi. Penegasan itu disampaikan saat ia berziarah ke makam pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) di Laweyan, Surakarta, Kamis, 26 Maret.
Bagi Fadli, jejak Samanhudi penting dibaca kembali karena lahir dari realitas zamannya yakni ketimpangan, dominasi ekonomi asing, dan lemahnya posisi pedagang pribumi. Dari Laweyan, Samanhudi mengonsolidasikan kekuatan pedagang batik lewat SDI, organisasi yang kemudian menjadi embrio kesadaran kolektif bumiputra.
“Beliau mengorganisasikan kekuatan rakyat melalui wadah ekonomi, yakni Sarekat Dagang Islam, sebagai langkah awal dalam menghadapi dominasi kolonial,” kata Menbud Fadli.
BACA JUGA:
Ia menilai langkah itu menjadi fondasi penting bagi lahirnya gerakan yang lebih luas. Saat SDI berubah menjadi Sarekat Islam pada 1912 di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, arah perjuangan ikut meluas. Organisasi itu tidak lagi berhenti pada urusan dagang, tetapi masuk ke arena sosial dan politik sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.
“Perubahan ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya berfokus pada ekonomi, tetapi juga berkembang menjadi gerakan yang memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan,” ujar Fadli.
K.H. Samanhudi lahir di Surakarta pada 1868. Saudagar batik itu mendirikan SDI pada 1905 untuk melindungi kepentingan pedagang pribumi dari dominasi pedagang asing. Organisasi tersebut lalu berkembang menjadi Sarekat Islam, salah satu organisasi massa terbesar pada masa pergerakan nasional. Atas jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 1961. Samanhudi wafat pada 1956.
Ziarah itu dihadiri Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto, perwakilan Pemkot Surakarta, dan jajaran Kementerian Kebudayaan. Kunjungan ini menjadi penegasan bahwa sejarah pergerakan nasional tak lahir di ruang kosong, tetapi tumbuh dari keberanian tokoh lokal membaca ketidakadilan dan mengorganisasi perlawanan.