Bagikan:

JAKARTA - Kepala Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengatakan, pengawalan angkatan laut melalui Selat Hormuz tidak akan "100 persen menjamin" keselamatan kapal yang mencoba melintasi jalur air tersebut.

Bantuan militer "bukan solusi jangka panjang atau berkelanjutan" untuk membuka selat tersebut, kata Arsenio Dominguez kepada Financial Times seperti dilaporkan Hari Selasa, melansir Al Arabiya dari Reuters (17/3).

Diberitakan sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh beberapa sekutu Barat tidak tahu berterima kasih setelah beberapa negara menolak permintaannya untuk mengirim kapal perang untuk mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.

"Kita adalah korban sampingan dari konflik ketika akar penyebabnya tidak ada hubungannya dengan pelayaran," kata Dominguez kepada FT, menambahkan IMO memiliki kekhawatiran serius tentang kapal-kapal yang terjebak di Teluk dan kehabisan makanan serta persediaan untuk awak kapal mereka.

Rencananya, Dewan IMO akan mengadakan Sidang Luar Biasa pada Hari Rabu dan Kamis di markas besarnya di London, Inggris untuk membahas dampak pada pelayaran dan pelaut sebagai akibat dari konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung.

Dominguez menyerukan kepada para pengelola kapal "untuk tidak berlayar dan tidak membahayakan pelaut serta tidak membahayakan kapal," kata laporan itu.

Selat Hormuz yang penting, tempat 20 persen minyak dan gas alam cair dunia mengalir, sebagian besar tetap tertutup, sehingga menaikkan harga energi dan kekhawatiran akan inflasi.

Penutupan ini juga memaksa perubahan rantai pasokan yang cepat dan mahal untuk mempertahankan aliran impor penting, dengan perusahaan logistik berlomba untuk mengatasi masalah perubahan tujuan kapal, memindahkan barang melalui darat, dan menjaga agar barang-barang yang mudah rusak tidak membusuk.