Bagikan:

JAKARTA - Miliarder Amerika Serikat dan investor teknologi Peter Thiel menggelar serangkaian kuliah tertutup di Roma yang membahas konsep Antikristus, memicu perhatian dan kritik dari kalangan Gereja Katolik.

Dikutip dari Reuters, Minggu, 15 Maret, konferensi hanya terbuka bagi undangan ini dimulai pada Minggu dan dijadwalkan berlangsung hingga Rabu. Acara itu tidak dibuka untuk media dan lokasi penyelenggaraannya juga tidak diumumkan secara publik.

Menurut penyelenggara yang dikutip sejumlah media, peserta yang hadir berasal dari kalangan akademisi, teknologi, serta tokoh agama.

Peter Thiel merupakan salah satu pendiri Palantir Technologies, perusahaan perangkat lunak kecerdasan buatan yang memiliki hubungan erat dengan lembaga pertahanan dan intelijen Amerika Serikat.

Dalam beberapa tahun terakhir, Thiel semakin aktif membahas isu-isu religius dan filosofis.

Tahun lalu, ia mengadakan rangkaian diskusi serupa di San Francisco yang membahas kemungkinan kemunculan Antikristus di panggung global.

Menurut pandangannya, sosok Antikristus berpotensi muncul dengan menawarkan pembentukan pemerintahan dunia tunggal dengan janji menyelesaikan ancaman besar seperti perang nuklir, kecerdasan buatan, atau bencana akibat perubahan iklim.

Thiel, yang kini berusia 58 tahun, dibesarkan dalam keluarga Kristen Evangelikal dan kerap menyatakan bahwa ajaran Kristen sangat memengaruhi cara pandangnya terhadap dunia.

Kunjungan Thiel ke Roma turut menarik perhatian Pope Leo, pemimpin Gereja Katolik yang dikenal kritis terhadap sejumlah kebijakan sayap kanan di Amerika Serikat.

Paus Leo juga beberapa kali memperingatkan potensi bahaya dari perkembangan kecerdasan buatan.

Sejumlah universitas Katolik di Roma sempat disebut-sebut menjadi tuan rumah konferensi tersebut, namun pihak kampus membantah spekulasi itu.

Agenda resmi Vatikan juga tidak mencantumkan pertemuan antara Thiel dan Paus Leo.

Disebut “Tindakan Bidah Berkepanjangan”

Kritik keras datang dari Paolo Benanti, seorang pastor yang menjadi penasihat Vatikan dalam isu kecerdasan buatan.

Dalam sebuah esai yang diterbitkan pada Sabtu di situs Le Grand Continent, Benanti menyebut Thiel sebagai “teolog politik” dari dunia teknologi Silicon Valley.

Ia menilai gagasan dan aktivitas Thiel dapat dipandang sebagai bentuk penentangan terhadap konsensus liberal modern.

“Seluruh tindakan Thiel dapat dibaca sebagai tindakan bidah yang berkepanjangan terhadap konsensus liberal,” tulis Benanti dalam esainya.

Tulisan tersebut bahkan diberi judul provokatif: “American heresy: should Peter Thiel be burned at the stake?”

Kritik serupa juga muncul dari surat kabar L'Avvenire yang dimiliki oleh konferensi para uskup Italia.

Dalam sejumlah artikel yang terbit sepanjang pekan ini, media tersebut memperingatkan bahwa para pemimpin teknologi tidak boleh menentukan sendiri batas etika mereka tanpa pengawasan publik.

Pemerintah, menurut artikel tersebut, harus menjaga pengawasan demokratis terhadap platform digital serta melawan penyebaran disinformasi.

Jaringan Politik Konservatif

Thiel diketahui masih memiliki hubungan dekat dengan sejumlah tokoh politik di Washington, termasuk Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang juga seorang mualaf Katolik.

Kehadirannya di Roma mengikuti rangkaian kunjungan tokoh-tokoh yang terkait dengan gerakan konservatif Amerika Serikat ke Italia.

Beberapa nama yang sebelumnya datang antara lain Steve Bannon, Elon Musk, serta JD Vance.

Meski demikian, agenda resmi Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni tidak mencantumkan rencana pertemuan dengan Thiel selama kunjungannya di Roma.