JAKARTA - Petrus To Rot atau Peter To Rot menjadi Santo pertama dari Papua Nugini, seiring dengan Kanonisasinya oleh Paus Leo XIV pada Hari Minggu.
Kanonisasi dalam Misa di Lapangan Santo Petrus, Vatikan yang dipimpin oleh Paus Leo XIV tersebut berbarengan dengan enam Santo lainnya, yakni Saint Ignatius Maloyan, Saint Jose Gregorio Hernandez, Saint Carmen Rendiles, Saint Maria Troncatti, Saint Vicenza Maria Poloni dan Saint Bartolo Longo, dikutip dari Vatican News 21 Oktober.
"Kisah Petrus To Rot bukan hanya kisah keluarga saya. Ini milik seluruh Papua Nugini. Ia teguh dalam iman di saat rakyat kami berada di bawah tekanan yang luar biasa. Kesaksiannya, sederhana namun mendalam, ia menolak untuk meninggalkan Tuhan, keluarganya, atau komunitasnya dan terus menginspirasi kami," jelas Uskup Agung Rabaul Rochus Tatamai.
"Peristiwa kanonisasi akan jauh lebih dari sekadar perayaan Gereja," kata Uskup Agung Tatamai.
"Ini akan menjadi berkat bagi seluruh negeri, mengingatkan kita bahwa masyarakat itu sendiri bergantung pada kekuatan keluarga, ini adalah anugerah bagi negara kita sebagai seorang revolusioner nasional yang memanggil kita kepada kekudusan yang dimulai dalam keluarga dan meluas ke seluruh masyarakat," urainya.
"Ia dikenal karena kerendahan hatinya, pelayanan kepada kaum miskin, pengabdian dalam doa, dan rasa hormat kepada para penatua. Ia menantang kita semua untuk menjalani hidup dalam pelayanan dan kemurahan hati, kisah To Rot menawarkan panduan praktis," jelasnya.
Petrus To Rot lahir pada tahun 1912 di Desa Rakunai dan dibaptis di gereja Katolik sejak usia dini.
Ia melayani sebagai katekis di desanya dan dipercaya memimpin paroki setempat selama Perang Dunia II ketika Jepang menduduki wilayah tersebut.
Ia membela nilai-nilai keagamaan dalam menghadapi penindasan Jepang dan terus mengadakan kebaktian secara rahasia.
Sekitar tahun 1943, penghancuran gereja mendorongnya untuk membangun sebuah "gereja semak" di luar desa untuk mengadakan kebaktian rahasia. Ia menyimpan catatan pembaptisan dan pernikahan di sana. To Rot dan yang lainnya melanjutkan pekerjaan mereka hingga ia dipenjara.
Petrus To Rot dibunuh di penjara pada tahun 1945 karena memperjuangkan pernikahan monogami di masa poligami masih dipraktikkan, dikutip dari The Guardian.
Ayah Peter To Rot adalah kepala komunitas, salah satu orang pertama yang dibaptis di desanya. Ia menyumbangkan tanah untuk pembangunan gereja, sekolah dan rumah misi.
"Di Makam Santo Petrus To Rot, jenazahnya disemayamkan, terawat baik dalam sebuah peti kayu. Suasananya tenang dan damai, dan ada anak-anak yang mengunjungi tempat suci tersebut dari sekolah terdekat selama jam istirahat untuk selalu berdoa," menurut Sekretaris Komunikasi Sosial SOCOM Konferensi Waligereja Katolik Papua Nugini dan Kepulauan Solomon Sr. Daisy Lisania, MSC.
Petrus To Rot Dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada 17 Januari 1995, sementara Kanonisasinya disetujui oleh Paus Fransiskus pada 31 Maret 2025 sebelum Kanonisasi pada 19 Oktober 2025.
Sementara itu, Romo Tomas Ravaioli, IVE, wakil postulator Proses Kanonisasi mengatakan foto Petrus To Rot hanya ada satu dan tidak banyak diketahui.
"Untuk kanonisasi, kami menginginkan potret barunya. Saya menugaskan seniman Spanyol Raúl Berzosa," katanya.
BACA JUGA:
Dalam lukisan ini, Petrus To Rot memegang Kitab Suci di tangan kanannya, cincin kawin di tangan kirinya dan di lehernya, terdapat salib katekis. Ketiga simbol tersebut menandai potret resmi Petrus To Rot yang baru. Gambar ini digantung di fasad Basilika Santo Petrus pada hari Kanonisasi.
"Ini momen bersejarah kebanggaan, iman dan inspirasi bagi Papua Nugini dan rakyat kami," kata Perdana Menteri Papua Nugini James Marape.
Lebih dari 90 persen dari 12 juta penduduk Papua Nugini merupakan penganut Kristen, tetapi berdampingan dengan sejumlah besar kepercayaan, adat istiadat, dan ritual lokal. Sementara, sekitar seperempat penduduk Papua Nugini beragama Katolik.