Bagikan:

MEDAN – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong pelestarian keris tidak berhenti pada simbol dan seremoni, tetapi diperkuat lewat literasi, kajian, dan sertifikasi profesi agar warisan budaya itu tetap hidup dan punya nilai di masa depan.

Pesan itu disampaikan Fadli saat menghadiri pelantikan pengurus Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Koordinator Wilayah Sumatra Utara periode 2026-2030 di Rumah Budaya Tangga, Medan, Minggu, 8 Maret 2026.

Fadli menegaskan, SNKI merupakan salah satu dari enam organisasi budaya Indonesia yang telah terakreditasi UNESCO. Ia menyebut organisasi ini dibentuk pemerintah lewat Kongres Perkerisan 2016 dan terus menunjukkan perkembangan.

“Pada awalnya panggung keris yang ada hanya sekitar 16, kini sudah lebih dari 250 penggiat keris di seluruh Indonesia. Ini menandakan kesinambungan dan keberlanjutan budaya kita,” kata Fadli.

Ia menilai tantangan pelestarian keris kini bukan hanya menjaga bentuk fisiknya, tetapi juga memperluas pemahaman publik. Karena itu, Fadli mendorong lebih banyak literasi dan kajian tentang keris, sekaligus memperkuat kapasitas para pelaku perkerisan.

Menurut dia, Kementerian Kebudayaan juga telah membuka Lembaga Sertifikasi Profesi Keris Indonesia dengan 29 skema sertifikasi. Langkah ini dinilai penting agar dunia perkerisan tidak berjalan seadanya, tetapi memiliki standar dan pengakuan yang jelas.

Keris Indonesia sendiri telah tercatat sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO sejak 2005. Setelah wayang, keris menjadi penanda bahwa warisan budaya Indonesia punya posisi kuat di panggung dunia.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum SNKI Wilayah Sumatra Utara, Zulfani Anhar, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah dalam upaya mengenalkan kembali kearifan lokal Nusantara melalui keris.

Menbud Fadli, di akhir sambutan menegaskan keris harus dijaga sebagai warisan budaya sekaligus didorong menjadi bagian dari intellectual property Indonesia bersama objek budaya lainnya.