SURAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon resmi menutup Jambore Nasional Keris 2025 yang digelar di Keraton Surakarta Hadiningrat. Acara budaya berskala nasional ini menjadi momentum penting dalam pelestarian warisan budaya tak benda Indonesia, khususnya keris, yang telah diakui oleh UNESCO sejak 25 November 2005.
Jambore Nasional Keris 2025 berlangsung selama empat hari, mulai 23 hingga 26 Juni, dengan berbagai agenda budaya seperti pameran keris, kirab pusaka, workshop, dan lomba pembuatan keris. Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon mendorong penguatan literasi keris, serta pengembangan kreasi empu muda untuk menjadikan keris tetap hidup di tengah masyarakat modern.
“Kami akan mendukung kegiatan ini secara berkelanjutan melalui Dana Indonesiana. Harapannya, program ini dapat inklusif dan menjangkau para pelaku budaya keris di seluruh Indonesia,” ujar Fadli Zon di hadapan ratusan peserta.
Keris sebagai Identitas Budaya Nusantara
Acara ini diinisiasi oleh Keraton Surakarta bersama paguyuban-paguyuban keris seperti Paguyuban Tosan Aji Karanganyar (Pataka) Bumi Lawu. Turut hadir membuka acara, KGPH Hangabehi dan Ketua Lembaga Dewan Adat GKR Wandansari Koes Moertiyah, yang menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya Indonesia melalui keris.
“Jambore ini bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya leluhur,” kata Ketua Pelaksana Dayu Handoko.
Dayu berharap Jambore Nasional Keris bisa menjadi agenda tahunan dan wadah bagi para empu, pelaku UMKM perkerisan, serta penggemar tosan aji dari berbagai daerah.
BACA JUGA:
Pendidikan dan Regenerasi Empu Jadi Fokus Pemerintah
Menbud Fadli juga menekankan pentingnya pendidikan kebudayaan melalui institusi seperti ISI Surakarta yang telah memiliki program studi D4 khusus keris. Ia berharap lahir lebih banyak empu perempuan dan generasi muda yang mendalami seni pembuatan keris.
“Hingga kini sudah ada 16 empu perempuan yang belajar di ISI Surakarta. Ini langkah maju untuk regenerasi empu keris,” jelasnya.
Pada penutupan Jambore, Menbud menyerahkan Piala Menteri kepada para pemenang Kontes Tosan Aji Yayasan Enggal yang melombakan beberapa kategori seperti: Best Klasik, Best Tinatah, Best Kontemporer, Best of The Best, Karya Terbaik Empu.
Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga memberi edukasi kepada generasi muda tentang nilai-nilai luhur di balik setiap bilah keris.
Dukungan Pemerintah dan Tokoh Budaya
Penutupan Jambore turut dihadiri oleh Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto, Ketua Lembaga Adat Keraton GKR Koes Moertiyah, Ketua MAKIN KPH Eddy Wirabumi, dan KGPH Hangabehi. Dari Kementerian Kebudayaan hadir Staf Khusus dan pejabat struktural yang mendukung penuh kegiatan pelestarian budaya ini.
“Keris bukan sekadar pusaka, tetapi cerminan filosofi dan peradaban bangsa. Kami berkomitmen menjadikan keris sebagai jantung identitas budaya Indonesia,” tegas KGPH Hangabehi.