Bagikan:

GIANYAR - Kementerian Kebudayaan RI bersama Neka Art Museum membuka ruang temu bertajuk Harmoni Pemajuan Kebudayaan di Ubud, Bali, Senin, 1 September. Acara ini menyatukan seni rupa, literasi budaya, masyarakat adat, dan kuliner tradisi sebagai wujud pemajuan kebudayaan nasional.

Empat agenda utama hadir sekaligus: Pameran Seni Rupa Keris Vibrant Colors, peluncuran buku Taksu Keris Bali, sarasehan masyarakat adat, serta pengalaman gastronomi Kuliner Cara Puri.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan budaya adalah kekuatan pemersatu bangsa. “Budaya menyatukan. Life goes on, culture must goes on. Hidup terus berjalan, begitu juga budaya,” ujarnya.

Buku Taksu Keris Bali yang ditulis Menbud Fadli bersama staf khususnya, Basuki Teguh Yuwono, menjadi sorotan utama. Buku ini mengupas keris bukan sekadar benda pusaka, tapi manifestasi nilai, keyakinan, dan spiritualitas masyarakat Bali. Peluncuran buku ditandai Tari Pendet, lalu dilanjutkan pameran seni rupa keris kontemporer.

Menbud Fadli menekankan, keris Bali bukan hanya karya seni berestetika tinggi, tetapi juga simbol diplomasi budaya. Bahkan Presiden Prabowo kerap menghadiahkan keris Bali kepada pemimpin dunia.

Selain itu, Menbud Fadli selaku Ketua Umum SNKI melantik Koordinator Wilayah SNKI Bali. Organisasi ini kini menaungi lebih dari 220 paguyuban keris di seluruh Indonesia.

Ruang refleksi juga hadir lewat Sarasehan Masyarakat Adat. Perwakilan komunitas menyampaikan aspirasi soal keberlangsungan adat dan tantangan menjaga hak kultural. Menbud Fadli menegaskan, masyarakat adat adalah garda terdepan pelestarian budaya.

Sementara itu, Kuliner Cara Puri memperlihatkan filosofi jamuan puri Bali. Hidangan diwariskan turun-temurun, disajikan dengan tata krama, doa, dan makna simbolik. Bagi Menbud Fadli, kuliner adat bukan sekadar soal rasa, melainkan harmoni manusia, alam, dan Tuhan.

Acara ini menjadi bagian dari konferensi budaya internasional CHANDI 2025 di Sanur. Kementerian Kebudayaan menegaskan, pemajuan budaya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi gerakan bersama.

Warisan budaya Bali membuktikan bahwa kebudayaan Indonesia bukan arsip mati, melainkan kehidupan yang terus berjalan dan memberi makna bagi generasi kini maupun mendatang.