Bagikan:

Bali kembali jadi panggung dunia. Forum Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovative (CHANDI) 2025 yang dihadiri delegasi dari 43 negara menegaskan satu hal penting: Indonesia bukan sekadar negara kaya tradisi, tapi super power budaya yang diperhitungkan di percaturan global.

Indonesia memiliki posisi strategis sebagai bangsa dengan mega-diversity budaya: 280 juta penduduk, lebih dari 1.340 etnis, 718 bahasa daerah, serta 2.213 warisan budaya takbenda yang diakui negara. “Prinsip Bhinneka Tunggal Ika, gotong royong, dan musyawarah menjadi fondasi harmoni sekaligus kontribusi nyata bagi perdamaian dunia,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Dalam sebuah kesempatan Menteri Kebudayaan Fadli juga menekankan bahwa sektor budaya dan kreatif telah membentuk ekosistem global senilai USD 4,3 triliun atau 6 persen perekonomian dunia, menciptakan 30 juta lapangan kerja yang mayoritas ditopang UMKM dan tenaga muda. Di Indonesia, bukti riilnya tampak jelas: bioskop mencatat 122 juta penonton pada 2024, ekspor batik naik 76 persen di kuartal pertama 2025. Data ini menempatkan industri budaya sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional.

Menteri Koordinator PMK Pratikno menambahkan, teknologi kecerdasan buatan (AI) harus memperkuat ikatan budaya, bukan mengikisnya. “Indonesia mendorong tata kelola AI yang melestarikan bahasa dan budaya. Bhinneka Tunggal Ika harus jadi pijakan peradaban digital yang adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Deklarasi Bali 2025 yang lahir dari forum ini menegaskan budaya kini berdiri sejajar dengan isu politik, ekonomi, hingga keamanan global. Para delegasi sepakat budaya adalah kompas masa depan untuk menghadapi krisis iklim, konflik, dan ketidaksetaraan.

Delegasi asing pun mengamini. Menteri Dalam Negeri dan Warisan Budaya Zimbabwe, H.E. Kazembe, mengingatkan filosofi Ubuntu: Saya ada karena Anda ada. Sementara perwakilan pemuda Palestina, Jana Abusalha, menyuarakan optimisme generasi muda: “Budaya adalah bahasa lintas generasi. Setiap lagu, tarian, atau festival di tengah krisis adalah cara damai kami untuk mengatakan: kami ada di sini, dan kami akan terus ada.”

Dari forum ini, pesan yang paling lantang adalah tawaran Indonesia: ketika negara adidaya bertarung dengan senjata, Indonesia hadir dengan diplomasi budaya.

Ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya, Hashim S. Djojohadikusumo, ikut menegaskan pentingnya investasi pada sektor budaya. Dalam pidatonya, ia menyampaikan keprihatinan atas tantangan besar yang dihadapi Indonesia di tengah derasnya arus globalisasi, teknologi, dan media digital. Selama lebih dari satu dekade, Hashim mengaku terus memikirkan keterkaitan erat antara budaya, identitas, dan masa depan bangsa. “Indonesia adalah persimpangan peradaban dunia sejak ribuan tahun lalu. Namun yang kita perlukan adalah strategi yang berani: tidak hanya melestarikan budaya, tetapi menjadikannya motor utama ekonomi dan diplomasi.”

Momentum CHANDI 2025 memperlihatkan arah itu. Desa Panglipuran dipilih sebagai simbol harmoni budaya dan alam. Lokakarya keris, musik angklung, hingga sesi membatik bersama menghadirkan pengalaman nyata bagi para delegasi. Dari Libya, Suriah, Yordania, hingga Inggris, kerja sama budaya diteken. Rwanda dan Uzbekistan pun masuk dalam jejaring.

Bahkan UNESCO, sebagaimana dikutip situs resmi Kemendikbud, terang-terangan menyebut Indonesia sebagai negara super power budaya. Label ini bukan basa-basi, melainkan pengakuan dunia atas posisi Indonesia.

CHANDI 2025 membuktikan bahwa diplomasi tak lagi hanya urusan meja perundingan atau dagang. Budaya kini jadi senjata lunak yang mampu mengendalikan narasi global. Dan di tengah perebutan pengaruh dunia, Indonesia menunjukkan jalannya. Super power sejati bukanlah mereka yang punya kapal induk atau rudal nuklir, melainkan bangsa yang menawarkan harmoni dan perdamaian lewat warisan leluhur. Dalam hal ini, Indonesia berdiri di garis depan.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+