TEGAL - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan warga terdampak bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, akan mendapatkan hunian sementara (huntara) hingga hunian tetap (huntap).
Kepastian itu disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat meninjau pos pengungsian di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara.
"Diibangun huntara sebanyak 900 unit, sementara telah disiapkan lahan untuk 500 unit," ujar Suharyanto di hadapan warga, Kamis, 19 Februari.
Menurut dia, pembangunan huntara akan dipercepat meski terkendala ketersediaan lahan. BNPB mengusulkan skema pembangunan mandiri agar warga dapat menentukan lokasi huntara sesuai kesepakatan dengan pemerintah desa.
"Huntara bisa dibangun mandiri, satu per satu per warga, sehingga Kepala Desa diharapkan dapat menyiapkan lahannya," ucapnya.
Sambil menunggu huntara selesai, warga diberi pilihan tempat tinggal. Mereka bisa tetap di pos pengungsian, tinggal bersama kerabat, atau mengontrak rumah.
"Akan diberikan dana tunggu hunian sebesar 600 ribu per bulan per kepala keluarga bagi warga yang memilih tidak menempati pos pengungsian hingga huntara selesai dibangun," tegas Suharyanto.
Selain hunian sementara, pemerintah juga menyiapkan pembangunan huntap. Skemanya bisa terpusat maupun mandiri, dengan syarat lokasi aman dari risiko bencana dan sesuai kriteria teknis yang ditetapkan.
"Huntap akan segera dibangun, bisa bersifat terpusat san mandiri. Jika ada warga yang ingin dibangunkan di luar Kabupaten Tegal pun tetap diizinkan," tuturnya.
BACA JUGA:
BNPB juga mendorong relokasi bagi warga yang tinggal di zona rawan tanah bergerak. Area yang sudah terdampak akan direboisasi dan tidak lagi dihuni.
"Salah satu solusinya harus relokasi, cari tempat baru yanh aman dan relokasi. Tempat yang sudah terjadi bencana tanah bergerak dilakukan reboisasi dan tidak bisa ditempati manusia lagi," pungkasnya.
Dalam kunjungan tersebut, BNPB turut menyerahkan bantuan logistik berupa permakanan dan peralatan untuk mendukung penanganan darurat di lokasi terdampak.