JAKARTA - Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan memuji Amerika Serikat dan Iran yang menunjukkan fleksibilitas dalam kesepakatan nuklir, dengan Washington tampaknya "bersedia" mentolerir beberapa pengayaan nuklir.
"Ini positif bahwa Amerika tampaknya bersedia mentolerir pengayaan Iran dalam batasan yang jelas," kata Fidan, yang telah terlibat dalam pembicaraan dengan Washington dan Teheran, kepada Financial Times, seperti melansir Al Arabiya dari Reuters (12/2).
"Iran sekarang menyadari bahwa mereka perlu mencapai kesepakatan dengan Amerika, dan Amerika memahami bahwa Iran memiliki batasan tertentu. Tidak ada gunanya mencoba memaksa mereka," tambahnya.
Diketahui, Washington hingga saat ini menuntut Iran untuk melepaskan persediaan uranium yang diperkaya hingga 60 persen kemurnian fisil, sedikit lebih rendah dari 90 persen yang dianggap sebagai uranium tingkat senjata nuklir.
Sementara, Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan Iran akan terus menuntut pencabutan sanksi keuangan dan bersikeras pada hak nuklirnya, termasuk pengayaan.
Menlu Fidan mengatakan kepada Financial Times, ia percaya Teheran "benar-benar ingin mencapai kesepakatan nyata" dan akan menerima pembatasan tingkat pengayaan dan rezim inspeksi yang ketat, seperti yang dilakukan dalam perjanjian tahun 2015 dengan AS dan kekuatan nuklir dunia (JCPOA).
Para diplomat AS dan Iran mengadakan pembicaraan melalui mediator Oman di Oman pekan lalu dalam upaya untuk menghidupkan kembali diplomasi, setelah Presiden Donald Trump menempatkan armada angkatan laut di wilayah tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran akan aksi militer baru.
BACA JUGA:
Presiden Trump pada Hari Selasa mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah, ketika Washington dan Tehran bersiap untuk melanjutkan negosiasi.
Namun, Menteri Luar Negeri Turki memperingatkan, memperluas pembicaraan Iran-AS ke rudal balistik hanya akan membawa "perang lain."