Bagikan:

JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka jalur kerja sama budaya yang lebih konkret dengan Albania: koproduksi film, partisipasi festival, hingga pengajuan warisan budaya lewat mekanisme nominasi bersama. Fokusnya jelas—diplomasi budaya yang bisa diukur hasilnya, bukan sekadar pertemuan formal.

Pembahasan itu muncul dalam dialog Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dengan Charge d’Affaires Kedutaan Besar Republik Albania untuk Indonesia Nickson Ballço di Gedung Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Selasa, 10 Februari.

Dalam pertemuan itu, Fadli menekankan berdirinya kementerian kebudayaan sebagai institusi tersendiri untuk memperkuat komitmen negara pada ekosistem budaya—termasuk menjadikan tradisi sebagai fondasi pembangunan karakter di tengah arus global.

Salah satu pintu yang ditawarkan adalah film. “Kita bisa mengeksplorasi diplomasi budaya kita dari sisi film,” kata Fadli. Ia juga menyebut peluang partisipasi pada Tirana International Film Festival sebagai ruang pertemuan pelaku industri kedua negara.

Di sektor warisan budaya, Fadli mendorong mekanisme joint nomination serta keterlibatan aktif pada Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage untuk memperkuat relasi bilateral sekaligus melindungi kekayaan budaya lintas generasi.

Nickson Ballço menyambut rencana itu dan berharap diplomasi budaya Indonesia–Albania bisa bergerak dari film hingga festival budaya. Pertemuan juga dihadiri Dirjen Endah T.D. Retnoastuti, Staf Ahli Anindita Kusuma Listya, Staf Khusus Annisa Rengganis, serta Direktur Diplomasi Budaya Raden Usman Effendi.