Bagikan:

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Jakarta. Meski demikian, ia meminta jajarannya tetap meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi dini.

Pramono menyebut, informasi tersebut diperolehnya setelah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata dia, tidak ingin lengah meskipun belum ada laporan kasus.

"Terkait virus Nipah, alhamdulillah sampai hari ini di Jakarta belum ditemukan yang terkena virus nipah," kata Pramono di Jakarta Barat, Selasa, 3 Februari.

Pramono mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Kesehatan untuk memastikan langkah-langkah pencegahan dapat segera dilakukan di Jakarta. Menurut Pramono, kesiapsiagaan menjadi kunci agar potensi penularan bisa ditekan sejak awal.

Pramono juga mengaku telah menginstruksikan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk bersiaga dan menyiapkan penanganan jika ditemukan indikasi kasus. Ia menekankan pentingnya respons cepat dalam menghadapi penyakit menular.

"Saya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan untuk segera mengatasi menangan itu. Mudah-mudahan Jakarta lebih tanggap, karena persoalan yang menyangkut virus nipah terus kemudian yang kemarin kencing tikus dan sebagainya mudah-mudahan tidak terjadi di Jakarta," jelas Pramono.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang kewaspadaan terhadap Penyakit Virus Nipah. Penyakit virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus nipah.

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Murti Utami menyebut kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Indonesia dinilai memiliki risiko karena kedekatan geografis dan tingginya mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa virus Nipah.

"Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus Nipah pada manusia di Indonesia, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa," kata Murti dalam surat edaran tersebut.

Selain itu, hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah yang menandakan potensi sumber penularan di Indonesia.

Lebih jelasnya, virus Nipah merupakan anggota genus Henipavirus dari famili Paramyxoviridae. Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus sp.) dan dapat menular ke manusia secara langsung maupun melalui hewan perantara seperti babi. Penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, seperti buah atau nira.

Penularan antarmanusia telah dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Manifestasi klinisnya beragam, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut ringan hingga berat, serta ensefalitis yang berpotensi menyebabkan kematian.

Tingkat kematian virus Nipah dilaporkan cukup tinggi, berkisar 40–75 persen. Wabah pertama tercatat pada 1998–1999 di Desa Sungai Nipah, Malaysia, yang menyerang peternak babi dan kemudian menyebar ke Singapura. Kasus manusia juga pernah dilaporkan di India, Bangladesh, dan Filipina.

Sejak 2001 hingga 2026, kasus virus Nipah muncul secara sporadis di Bangladesh dan India. Di India, wabah pernah terjadi di Negara Bagian West Bengal pada 2001 dan 2007, serta berulang di Negara Bagian Kerala sejak 2018.

Terbaru, pada 14 Januari 2026, India kembali melaporkan kasus konfirmasi virus Nipah di Negara Bagian West Bengal. Hingga 26 Januari 2026, tercatat dua kasus konfirmasi tanpa kematian di Distrik North 24 Parganas.