JAKARTA - Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamboja Santo Darmosumarto mengapresiasi Kepolisian Phnom Penh atas dukungan dalam penanganan warga negara Indonesia (WNI) yang keluar dari pusat-pusat penipuan daring (scam center).
Lebih dari 2.000 WNI datang melapor ke KBRI Phnom Penh usai melarikan diri dari scam center, seiring dengan penegakan hukum yang diintensifkan otoritas setempat sejak pertengahan bulan ini.
Guna memperkuat koordinasi pengamanan dan penanganan WNI, Dubes Santo melakukan pertemuan dengan Wakil Kepala Kepolisian Nasional Kamboja sekaligus Kepala Kepolisian Phnom Penh, Letnan Jenderal Chuon Narin pada Hari Senin.
Dubes RI menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kamboja, termasuk penyediaan lokasi penampungan sementara serta peningkatan pengamanan di lingkungan KBRI dan lokasi penampungan WNI, kata KBRI Phnom dalam keterangannya, Selasa (27/1).
Sementara itu, Letjen Chuon Narin menyampaikan harapan agar seluruh WNI yang baru keluar dari jaringan sindikat penipuan daring dapat segera kembali ke Indonesia.
Ia menegaskan, Kepolisian Phnom Penh akan terus memantau kondisi keamanan para WNI, serta menyampaikan perhatian terhadap potensi risiko penyakit menular seiring dengan meningkatnya jumlah WNI di lokasi penampungan.
Terkait ha tersebut, akan dilakukan koordinasi dengan instansi terkait sebagai langkah-langkah pencegahan.
Kepolisian Phnom Penh juga akan melakukan hal-hal khusus agar kedatangan warga negara asing ke Phnom Penh, setelah keluar dari pusat-pusat penipuan daring di berbagai daerah, tidak mengganggu ketertiban umum di ibu kota.

Pasca-pertemuan tersebut, Dubes RI diajak bertemu dengan 19 WNI yang tengah ditampung oleh Kepolisian Phnom Penh. Di antara mereka, yang memiliki paspor, telah membeli tiket untuk segera pulang ke Indonesia.
Sedangkan yang lainnya akan difasilitasi pembuatan dokumen perjalanan sementara agar bisa menyusul rekan-rekannya.
Diberitakan sebelumnya, Dubes Santo mengatakan otoritas Kamboja mengintensifkan upaya penanggulangan online scam di negara itu, seiring dengan peningkatan upaya untuk memberantasnya yang dilakukan beberapa tahun terakhir.
"Baru-baru ini terjadi penangkapan terhadap beberapa mastermind dan pengelola utama scam center," ungkap Dubes Santo dalam keterangan pers daring pekan lalu.
Dengan penangkapan tersebut, banyak scam center yang menutup operasionalnya dan warga negara asing yang bekerja di tempat-tempat tersebut dipersilahkan keluar.
"Banyak yang mencari mekanisme kembali ke negaranya, termasuk WNI," jelas Dubes Santo, mengenai adanya lonjakan WNI yang datang melapor ke KBRI
"Ini masif, bukan hanya Indonesia. Ada (pekerja scam center asal) China, Vietnam, Filipina, Myanmar, Pakistan, India, bahkan dari Jepang, Korea Selatan, hingga negara yang tidak terprediksi seperti Turki," tandasnya.
Diungkapkan Dubes Santo, scam center ini ada yang berlokasi di Phnom Penh, sekitar Phnom Penh, Sihanoukville, Kampot hingga Mondulkiri yang lebih dekat dengan Vietnam.
BACA JUGA:
Dubes Santo memastikan lonjakan WNI yang melapor ini bukan rekrutan baru, bahkan ada yang sudah berulang datang ke Kamboja.
"Ini bukan karena rekrutan baru, tapi yang selama ini ada, kena grebek istilahnya. itu makanya banyak. Ada yang baru sebulan di Kamboja, ada yang sudah tiga bulan ada yang setaun, dua tahun, tiga tahun. Ada yang baru sekali datang ke Kamboja, ada yang dua kali dan tadi pagi, ada yang sudah tiga kali datang ke Kamboja," urai Dubes RI.
Dalam keterangannya Hari Selasa KBRI Phnom Penh mengungkapkan, sepanjang 16 Januari - 26 Januari pukul 23:00 waktu setempat, jumlah WNI yang melapor tela mencapai 2.493 orang.
Sebagai perbandingan, KBRI Phnom Penh mengatakan sepanjang tahun lalu pihaknya menangani 5.006 kasus WNI.