Bagikan:

JAKARTA - Uni Emirat Arab (UEA) pada Hari Senin mengatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara, darat dan perairannya digunakan dalam tindakan militer yang bermusuhan terhadap Iran, setelah sebuah kapal induk Amerika Serikat tiba di Timur Tengah.

Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan dialog dan de-eskalasi adalah "landasan paling efektif untuk mengatasi krisis saat ini, menggarisbawahi pendekatan UEA dalam menyelesaikan perselisihan melalui cara diplomatik," seperti melansir Anadolu (27/1).

Pernyataan ini menyusul peningkatan ketegangan di kawasan, terkait dengan sorotan Amerika Serikat terhadap situasi demonstrasi di Iran yang menewaskan ribuan orang.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada The National, kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln, yang terdiri dari beberapa kapal perang dan kapal induk, telah tiba di wilayah tanggung jawab US Central Command (Timur Tengah termasuk Mesir, Asia tengah dan sebagian Asia selatan)

Itu berarti AS sekarang memiliki daya tembak yang cukup besar dalam jangkauan serang Iran.

Terpisah, Channel 13 Israel melaporkan sebuah kapal yang membawa sistem pertahanan rudal sedang menuju Israel, dengan baterai Thaad diperkirakan akan tiba dalam beberapa hari mendatang.

Kedatangan kelompok serang kapal induk telah memicu kekhawatiran akan eskalasi militer baru antara Washington dan Teheran, dengan proksi Iran mengancam akan ikut campur kali ini.

Namun, seorang pejabat AS mengatakan Washington "terbuka untuk bisnis" dan siap untuk mengadakan pembicaraan.

Axios melaporkan Presiden AS Donald Trump mengatakan dia pikir Iran ingin mencapai kesepakatan.

"Mereka ingin berbicara," kata Presiden Trump.

Pekan lalu, Presiden Trump pada Hari Jumat mengatakan "armada" kapal perang Amerika sedang menuju Timur Tengah. Ia berulang kali mengancam akan campur tangan untuk mendukung para demonstran di Iran setelah penindakan terhadap demonstrasi nasional.

Setidaknya 5.800 orang telah tewas selama gelombang protes di Iran, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS. Sekitar 17.000 kematian lainnya sedang diselidiki seiring berlanjutnya pemadaman internet, tambah badan tersebut.

Di sisi lain, Otoritas Iran menyalahkan kematian tersebut pada para perusuh yang "didukung asing," menuduh AS dan Israel menghasut kekerasan di negara itu.

Trump dilaporkan mempertimbangkan tindakan militer terhadap Teheran selama kerusuhan, tetapi menahan diri setelah diberitahu pembunuhan dalam protes mereda dan rencana eksekusi skala besar telah dihentikan.

Namun, kekhawatiran akan eskalasi militer tetap ada karena pejabat Iran dan AS saling melontarkan ancaman.

"Kami memiliki armada besar yang menuju ke arah itu dan kita akan lihat apa yang terjadi," kata Presiden Trump saat sekembalinya ke AS dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pekan lalu.

"Saya lebih suka tidak melihat apa pun terjadi, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat," tambahnya.

Sementara itu, Pemimpin Hizbullah Naim Qassem pada Hari Senin memperingatkan, setiap ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dianggap sebagai ancaman bagi kelompok militan tersebut.

"Adalah tugas kita untuk menghadapi ancaman ini dengan semua tindakan dan persiapan," katanya, memperingatkan melancarkan perang terhadap Iran akan membakar kawasan tersebut.

Sedangkan Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga mengeluarkan ancaman akan kembali menyerang kapal

Kelompok pemberontak Houthi Yaman yang didukung Iran juga mengeluarkan peringatan, mengancam akan kembali menyerang kapal.

Diketahui, kapal induk USS Abraham Lincoln didampingi oleh beberapa kapal perusak rudal berpemandu. Sayap udara kapal induk tersebut memiliki jet tempur F-35C.

Aset-aset tersebut serupa dengan kapal-kapal militer yang dikirim AS ke Laut Karibia beberapa minggu sebelum Trump melancarkan operasi militer untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.