JAKARTA - Militer Israel mengklaim menyerang lokasi fasilitas nuklir Bushehr, Isfahan, dan Natanz milik Iran. Tapi skala serangan Israel terhadap Bushehr belum jelas.
Bushehr adalah satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Iran yang beroperasi di Gulf Coast dengan menggunakan bahan bakar Rusia.
Konsekuensi potensial dari serangan terhadap pabrik tersebut -- mencemari udara dan air -- telah lama menjadi perhatian di negara-negara Teluk.
Sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters, kontaminasi tersebut adalah kasus terburuk yang kini tengah dipersiapkan oleh negara-negara Teluk.
Sumber tersebut menyatakan negara-negara Teluk, bekerja sama dengan pengawas nuklir PBB, telah menyiapkan rencana darurat untuk setiap serangan terhadap pabrik nuklir mana pun di wilayah tersebut.
Kedutaan Besar Rusia di Iran mengatakan Bushehr beroperasi secara normal dan tidak melihat adanya ancaman keamanan.
Perdana Menteri Qatar pada Maret, pernah memperingatkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran akan “mencemari" perairan Teluk dan mengancam kehidupan di Qatar, UEA, dan Kuwait.
BACA JUGA:
Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani memperingatkan serangan terhadap situs nuklir Iran akan membuat Teluk "tidak memiliki air, tidak ada ikan, tidak ada apa-apa, tidak ada kehidupan,” katanya.
Qatar, UEA, dan Kuwait, yang berhadapan dengan Iran di sisi Teluk yang berlawanan, memiliki cadangan air alami yang sangat sedikit dan merupakan rumah bagi lebih dari 18 juta orang yang satu-satunya pasokan air minumnya adalah air desalinasi yang diambil dari Teluk.