JAKARTA - Dr. Ali Shaath resmi memulai tugasnya untuk memimpin masa transisi di Jalur Gaza, bertekad untuk membangun kembali wilayah kantong Palestina tersebut pada akhir pekan.
Shaath pada Hari Sabtu memulai tugasnya sebagai Kepala Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) dengan mengadopsi dan menandatangani pernyataan misi komite tersebut.
"Hari ini, sebagai tindakan resmi pertama saya, saya mengadopsi dan menandatangani Pernyataan Misi NCAG, menegaskan mandat pemerintahan dan prinsip-prinsip operasional kami," cuitnya di X, seperti melansir Anadolu (19/1).
Lebih lanjut Shaath mengatakan NCAG "diotorisasi oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 dan Rencana Perdamaian 20 Poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump" dan bertugas untuk mengubah masa transisi Gaza menjadi "landasan bagi kemakmuran Palestina yang berkelanjutan."
Mantan wakil menteri pada pemerintahan Otoritas Palestina (PA) itu menambahkan, komite tersebut akan beroperasi "di bawah bimbingan Dewan Perdamaian, yang diketuai oleh Presiden Trump dan dengan dukungan dan bantuan dari Perwakilan Tinggi untuk Gaza."
"Misi kami adalah membangun kembali Jalur Gaza bukan hanya dalam infrastruktur tetapi juga dalam semangat," katanya.
Menurut pernyataan tersebut, NCAG bertujuan untuk membangun keamanan, memulihkan layanan penting termasuk listrik, air, perawatan kesehatan, dan pendidikan, serta mempromosikan tata kelola yang "berakar pada perdamaian, demokrasi, dan keadilan."
Shaath mengatakan komite tersebut akan beroperasi "dengan standar integritas dan transparansi tertinggi" dan berupaya membangun "ekonomi produktif yang mampu menggantikan pengangguran dengan kesempatan bagi semua."
"Kami merangkul perdamaian, melalui mana kami berupaya mengamankan jalan menuju hak-hak Palestina yang sejati dan penentuan nasib sendiri," jelasnya.
Sebelumnya, Gedung Putih pada Hari Jumat mengumumkan anggota komite "teknokrat" baru yang akan mengawasi transisi kekuasaan di Jalur Gaza, sebagai bagian dari rencana 20 poin Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang genosida Israel di wilayah tersebut.
BACA JUGA:
Gedung Putih menggambarkan Shaath sebagai "pemimpin teknokrat yang sangat dihormati yang akan mengawasi pemulihan layanan publik, membangun kembali lembaga-lembaga sipil, dan menstabilkan kehidupan sehari-hari di Gaza, sambil meletakkan dasar bagi tata kelola jangka panjang."
Pernyataan tersebut juga menyebutkan Dewan Eksekutif Gaza antara lain beranggotakan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan; Utusan Khusus AS Steve Witkoff, menantu Presiden Trump Jared Kushner; mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair; Menteri Negara Uni Emirat Arab untuk Kerja Sama Internasional Reem Al-Hashimy, diplomat veteran Qatar Ali Al-Thawadi hingga kepala intelijen Mesir Hassan Rashad.
Pekan lalu, Witkoff mengumumkan pada Hari Rabu dimulainya fase kedua rencana gencatan senjata Gaza, dengan mengatakan bahwa fokus akan bergeser ke demiliterisasi, tata kelola teknokratis, dan rekonstruksi.