JEMBER – Banjir yang melanda Dusun Kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, tidak hanya merendam ratusan rumah warga, tetapi juga mengancam sektor pertanian. Sedikitnya 200 hektare lahan padi dilaporkan terdampak banjir dan berpotensi mengalami gagal panen.
Hingga Kamis, 15 Januari, area persawahan di Desa Lojejer masih terlihat tergenang air. Banjir dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah Jember dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Desa Lojejer, Mochammad Sholeh, mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan dan pemetaan terhadap lahan pertanian yang terdampak. Berdasarkan data sementara, sekitar 200 hektare sawah milik warga terendam air.
“Kami sudah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi dan memetakan lahan pertanian yang terdampak. Sesuai dengan program presiden, kami berupaya meminimalkan potensi gagal panen,” ujar Sholeh.
Ia menjelaskan, banjir di Desa Lojejer bukan kali pertama terjadi. Wilayah tersebut memang kerap menjadi langganan banjir setiap tahun, terutama saat curah hujan tinggi melanda kawasan hulu dan sekitarnya.
Selain lahan pertanian, banjir juga berdampak pada permukiman warga. Pemerintah desa mencatat sedikitnya 300 rumah terdampak, dengan ketinggian air sempat mencapai lebih dari satu meter.
“Sejak awal penanganan, kami melakukan evakuasi warga dan hewan ternak, mendata seluruh dampak banjir, serta bekerja sama dengan RT/RW, Babinsa, dan relawan untuk menyalurkan bantuan kepada warga,” tambahnya.
Meski banjir sempat melumpuhkan aktivitas warga, kondisi kini berangsur membaik. Air mulai surut dan sebagian warga telah kembali beraktivitas seperti biasa.
BACA JUGA:
Namun demikian, kekhawatiran masih dirasakan para petani. Tanaman padi yang terendam cukup lama dikhawatirkan mengalami kerusakan dan penurunan hasil panen.
Pemerintah desa berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk membantu petani terdampak, baik melalui pendampingan teknis pertanian maupun bantuan pascabanjir. Upaya tersebut dinilai penting untuk menekan potensi kerugian dan mencegah terjadinya gagal panen secara meluas.