JAKARTA - Hujan dengan intensitas tinggi melanda wilayah Jakarta dan kawasan penyangga sejak Senin pagi, memicu genangan dan banjir di sejumlah titik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjelaskan penyebab cuaca ekstrem tersebut.
Curah hujan mulai meningkat sejak Senin 12 Januari pagi, dan berlangsung berjam-jam hingga menjelang siang. Kondisi ini berdampak luas di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Di Jakarta, genangan terpantau di beberapa kawasan permukiman dan pusat aktivitas, antara lain Kelapa Gading, Sunter, Pademangan, dan Mangga Dua. Situasi serupa terjadi di sejumlah wilayah Bekasi, Bogor, dan Tangerang.
Air yang menggenangi ruas jalan menyebabkan perlambatan lalu lintas. Sejumlah layanan transportasi publik ikut terdampak, termasuk penyesuaian operasional Transjakarta serta gangguan perjalanan KRL pada lintas Angke–Kampung Bandan akibat rel tergenang.
BMKG mencatat hujan lebat tidak hanya terjadi di Jabodetabek. Dalam 24 jam terakhir, hujan dengan intensitas tinggi juga meluas ke wilayah lain di Indonesia, mulai dari Banten hingga Nusa Tenggara.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Ida Pramuwardani mengatakan beberapa daerah mencatat curah hujan lebih dari 100 milimeter per hari, antara lain Jawa Barat, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.
Menurut BMKG, kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer regional. Salah satunya adalah penguatan aliran angin dari Laut China Selatan yang bergerak ke selatan melewati Selat Karimata hingga Pulau Jawa.
Pola angin tersebut membentuk zona pertemuan massa udara di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan dengan intensitas tinggi.
Faktor lain berasal dari sistem tekanan rendah di kawasan timur Australia. Sistem ini memengaruhi sirkulasi angin di Indonesia bagian selatan dan memperkuat perlambatan aliran udara.
“Situasi ini mendorong proses naiknya udara secara berkelanjutan, yang meningkatkan peluang hujan lebat,” ujar Ida, Selasa 13 Januari.
BMKG memprakirakan potensi hujan deras masih berlanjut hingga sepekan ke depan, yakni pada periode 12-18 Januari 2026. Selain Jawa dan Nusa Tenggara, wilayah Sulawesi hingga Papua juga berpotensi terdampak.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko banjir, tanah longsor, serta gangguan transportasi selama periode cuaca ekstrem.
BACA JUGA:
Terkait musim hujan, BMKG menilai puncaknya secara umum masih berada pada Januari hingga Februari 2026. Namun, di sejumlah wilayah seperti Jawa dan Sulawesi, puncak musim hujan diperkirakan datang lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Sebaliknya, wilayah Sumatera dan Bali justru mengalami pergeseran puncak musim hujan ke periode yang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.