Bagikan:

JAKARTA - Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi pada Hari Kamis mengatakan, Iran tidak menginginkan perang dengan Israel atau Amerika Serikat, tetapi siap melawan balik jika diserang lagi.

Berbicara di Beirut, Lebanon, Menlu Araghchi mengatakan kepada wartawan bahwa Iran juga siap untuk bernegosiasi dengan AS mengenai program nuklirnya, selama pembicaraan tersebut didasarkan pada rasa saling menghormati dan bukan "dikte" oleh Washington.

Komentarnya muncul di tengah kekhawatiran banyak pihak, sekutu dekat AS, Israel, akan kembali menargetkan Iran seperti yang terjadi selama perang 12 hari pada Bulan Juni, di mana Israel membunuh pejabat militer senior dan ilmuwan nuklir, sementara AS membom situs pengayaan nuklir Iran.

"Amerika dan Israel telah menguji serangan mereka terhadap Iran dan serangan serta strategi ini mengalami kegagalan besar," kata Menlu Araghchi pada awal kunjungan dua harinya ke Lebanon, seperti melansir Al Arabiya dari The Associated Press (8/1).

"Jika mereka mengulanginya, mereka akan menghadapi hasil yang sama," lanjutnya.

"Kami siap untuk pilihan apa pun. Kami tidak menginginkan perang tetapi kami siap menghadapinya," tegas Menlu Araghchi.

Terkait program nuklir Iran, Presiden AS Donald Trump memberlakukan kembali kampanye "tekanan maksimum" terhadap Iran pada Bulan Februari dalam upaya untuk memblokir pengembangan senjata nuklir negara tersebut.

Kampanye tersebut termasuk serangan yang dipimpin AS terhadap tiga fasilitas pengayaan uranium Iran yang penting pada bulan Juni.

Menlu Araghchi mengatakan Teheran siap untuk bernegosiasi, menambahkan: "Tetapi saya katakan bahwa negosiasi harus didasarkan pada rasa saling menghormati dan kepentingan bersama."

"Kami percaya bahwa begitu Amerika mencapai kesepakatan bahwa negosiasi yang konstruktif dan positif, bukan perintah yang bersifat mendikte, adalah kerangka kerjanya, maka pada saat itulah hasil negosiasi tersebut akan membuahkan hasil," tandasnya.

Iran diketahui telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen — langkah teknis yang singkat dari tingkat uranium untuk senjata nuklir — setelah Presiden Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir Teheran tahun 2015 dengan kekuatan dunia pada tahun 2018.

Iran sendiri sejak lama menyatakan program atomnya bersifat damai, meskipun Barat dan IAEA, badan pengawas nuklir PBB, mengatakan Iran memiliki program senjata nuklir terorganisir hingga tahun 2003.

Bulan lalu, Presiden Trump memperingatkan Iran, Washington dapat melakukan serangan militer lebih lanjut jika negara itu mencoba untuk membangun kembali program nuklirnya, saat mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida.