JAKARTA - Denmark memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk berhenti “mengancam” dan ikut campur urusan kedaulatan negaranya atas Greenland.
Hal itu ditegaskan Perdana Menteri (PM) Denmark Mette Frederiksen setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan “benar-benar” membutuhkan wilayah Greenland pada Minggu waktu setempat, sehari setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
“Saya harus mengatakan ini dengan sangat jelas kepada Amerika Serikat: sungguh tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa Amerika Serikat harus mengambil alih Greenland,” kata Mette dalam sebuah pernyataan pada Minggu malam, dikutip dari AFP.
Ia kemudian menyerukan AS untuk berhenti “mengancam sekutu historisnya.”

Intervensi militer AS di Venezuela telah menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap Greenland, yang berulang kali diwacanakan bakal dicaplok AS lewat pernyataan Trump.
Negara-negara Eropa sekutu-sekutu AS diketahui terguncang oleh tindakan Trump yang mengirimkan militernya pada Sabtu untuk menyerang Caracas dan menangkap Nicolas Maduro yang kini ditahan di New York.
Trump mengatakan AS akan "menguasai" Venezuela tanpa batas waktu dan memanfaatkan cadangan minyaknya yang besar.
Kecemasan Mette juga muncul usai Trump menegaskan militer AS bakal menganeksasi Greenland saat sesi wawancara dengan majalah The Atlantic pada Minggu waktu setempat, diikuti unggahan media sosial istri ajudan Trump yang paling berpengaruh memperlihatkan Greenland dengan warna bendera AS
Dalam kasus Greenland, Trump mengklaim akan menjadikan wilayah Denmark itu bagian dari AS yang melayani kepentingan keamanan nasional AS, mengingat lokasinya yang strategis di Arktik.
Greenland diketahui juga kaya akan mineral penting yang digunakan di sektor teknologi tinggi.
"Kita memang membutuhkan Greenland, tentu saja. Kita membutuhkannya untuk pertahanan,” kata Trump kepada majalah The Atlantic.