Bagikan:

JAKARTA - Seorang utusan Kremlin akan melakukan perjalanan ke Florida untuk membahas rencana yang diusulkan AS untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Informasi ini disampaikan seorang pejabat AS pada Kamis, sebagai bagian dari diplomasi saat pemerintahan Trump mendorong kesepakatan potensial.

Kirill Dmitriev, yang memimpin dana kekayaan negara Rusia, dijadwalkan bertemu dengan utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, di Miami pada Sabtu, 20 Desember, menurut seorang pejabat Amerika yang berbicara dengan syarat anonim untuk memberikan pratinjau pertemuan yang belum diumumkan secara publik.

Pejabat tersebut mengatakan Witkoff dan Kushner akan duduk bersama Dmitriev, setelah pertemuan dengan pejabat Ukraina dan Eropa di Berlin awal pekan ini, di mana mereka membahas jaminan keamanan AS untuk Kyiv, konsesi teritorial, dan aspek lain dari rencana yang disusun Amerika yang bertujuan untuk mengakhiri perang.

Ketika ditanya tentang pertemuan di Miami, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pada Kamis, Moskow sedang mempersiapkan kontak dengan AS untuk mengetahui hasil pertemuan di Berlin, tetapi ia tidak memberikan detail lebih lanjut.

Trump melancarkan upaya diplomatik yang ekstensif untuk mengakhiri hampir empat tahun pertempuran setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022, tetapi upaya Washington telah menemui tuntutan yang sangat bertentangan dari Moskow dan Kyiv.

Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan pada Rabu, Moskow akan berupaya memperluas wilayah yang dikuasainya di Ukraina jika Kyiv dan sekutu Baratnya menolak tuntutan Kremlin dalam perundingan perdamaian.

Putin menginginkan semua wilayah di empat kawasan utama yang direbut oleh pasukannya, serta Semenanjung Krimea, yang dianeksasi secara ilegal pada tahun 2014, diakui sebagai wilayah Rusia.

Ia juga menuntut agar Ukraina menarik diri dari beberapa wilayah di Ukraina timur yang belum direbut oleh pasukan Moskow, yang telah ditolak oleh Ukraina.

Kremlin juga bersikeras agar Ukraina meninggalkan upayanya untuk bergabung dengan NATO dan memperingatkan bahwa Moskow tidak akan menerima pengerahan pasukan dari negara-negara anggota NATO dan akan menganggap mereka sebagai "target yang sah."