Bagikan:

JAKARTA - Genosida yang menewaskan lebih dari 70.000 warga Gaza merupakan tanda nilai-nilai yang disebutkan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia telah "sangat dirusak", kata Presiden Turki Hari Rabu.

"Sayangnya, kekejaman di Gaza dan wilayah Palestina yang diduduki terus berlanjut, terlepas dari semua upaya komunitas internasional," bunyi pernyataan Direktorat Komunikasi mengutip pernyataan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Hari Hak Asasi Manusia, dikutip dari Anadolu (10/12).

Sumber-sumber medis mengonfirmasi pada Hari Rabu, jumlah korban tewas di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 70.369, mayoritas anak-anak dan perempuan, sejak dimulainya serangan Israel pada 7 Oktober 2023, dikutip dari WAFA.

Sumber yang sama menjelaskan bahwa jumlah korban luka telah meningkat menjadi 171.069 sejak dimulainya serangan, sementara sejumlah korban masih terjebak di bawah reruntuhan, tidak dapat diakses oleh ambulans dan tim penyelamat.

Sementara, jumlah total korban tewas dan luka-luka sejak perjanjian gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 telah mencapai 379, sementara 992 lainnya terluka dan 627 jenazah telah ditemukan.

Presiden Erdogan mengatakan, dokumen Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB yang mewakili nilai-nilai dan pencapaian bersama umat manusia, masih mempertahankan karakternya sebagai komitmen global yang melindungi hak-hak yang dimiliki setiap individu sejak lahir.

Namun, Ia mencatat aturan dan prinsip yang terkandung dalam deklarasi tersebut dilanggar di banyak bagian dunia, sementara konsep-konsep seperti perdamaian dan keadilan terus kehilangan pijakan.

"Merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia untuk membangun kembali Gaza sesegera mungkin, karena wilayah itu telah hancur menjadi tumpukan puing yang besar," kata Presiden Erdogan.

Presiden menambahkan, jalan menuju perdamaian yang adil dan abadi di Gaza terletak pada penguatan gencatan senjata, yang telah ditetapkan dengan kontribusi Turki dan penerapan Solusi Dua Negara.

Ia menambahkan, Israel terus menunjukkan pengabaiannya terhadap hukum dan ketertiban, melanggar gencatan senjata dengan serangan yang telah menewaskan sedikitnya 370 warga Palestina sejak 11 Oktober.

"Sangat penting bagi komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan pada Israel untuk mencegah Gaza kembali terlibat dalam konflik," tandas Presiden Turki.