JAKARTA - Kementerian Kebudayaan menggelar Diskusi Kelompok Terpumpun membahas rencana pemasangan kembali Chattra Candi Borobudur di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu, 3 Desember. Forum ini mengumpulkan arkeolog, pemuka agama Buddha, BRIN, akademisi, pengelola kawasan, pemerintah daerah, serta perwakilan UNESCO dan ICOMOS untuk menghimpun masukan lintas ahli sebelum pemerintah menentukan arah kebijakan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan isu chattra bukan wacana baru dan telah dibahas sejak abad ke-19. “Banyak interpretasi dan perbedaan pendapat. FGD ini untuk mendengar seluruh aspirasi,” ujarnya. Ia menekankan perlunya pendekatan multidisipliner agar Borobudur dilihat sebagai Cagar Budaya dan ruang budaya yang hidup.
Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Marsis Soetopo, memaparkan sejarah rekonstruksi chattra dan menegaskan rekonstruksi baru hanya dapat dilakukan setelah kajian teknis menyeluruh dan penerapan Heritage Impact Assessment (HIA). Ketua Yayasan Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro Setrodiharjo, mengingatkan potensi risiko sosial–ekonomi jika pemasangan memengaruhi stabilitas struktur dan berdampak pada pembatasan kunjungan.
WALUBI melalui Karuna Murdaya menyatakan dukungan umat Buddha sepanjang keputusan memberi manfaat bagi spiritual dan masyarakat sekitar. Direktur Utama TWC, Febby Intan, menyebut pengelola kawasan siap mengikuti keputusan pemerintah. Berbeda, Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) menyoroti keterbatasan bukti arkeologis dan perlunya riset teknis multidisiplin serta manajemen kawasan yang adaptif.
BACA JUGA:
Praktisi arkeologi Daud Aris Tanudirjo menekankan konsekuensi internasional dari setiap perubahan struktur Borobudur dan pentingnya konsultasi resmi dengan UNESCO. Kepala Unit Kebudayaan UNESCO Jakarta, Moe Chiba, meminta pelibatan komunitas Buddhis internasional dan kajian mendalam terkait konservasi serta makna ketidakkekalan. Ketua ICOMOS Indonesia, Soehardi Hartono, mengingatkan risiko yang dapat memengaruhi keaslian dan integritas warisan dunia.
Tim BRIN melalui Ilham Hatta memaparkan hasil analisis struktur stupa induk yang dinilai mampu menampung chattra, namun tetap membutuhkan DED rinci dan evaluasi teknis agar tidak menimbulkan dampak jangka panjang. Perwakilan Yayasan Ehipassiko, Handaka Vijjananda, menekankan makna filosofis chattra sebagai unsur penting stupa yang melambangkan perlindungan.
Menutup diskusi, Menteri Fadli menegaskan seluruh masukan akan menjadi dasar rekomendasi pemerintah. Ia menyebut pemasangan chattra berpotensi memperkuat fungsi spiritual Borobudur dan mendorong ekonomi budaya masyarakat sekitar.