Bagikan:

JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) RI untuk pertama kalinya dalam sejarah akan menggelar perayaan Natal bersama pada 20 Desember 2025. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut langkah ini sebagai wujud komitmen Kemenag dalam merawat keberagaman dan memperkuat kerukunan umat beragama di Indonesia.

Dalam keterangannya yang dikutip dari Republika, Nasaruddin menegaskan pentingnya menjaga harmoni di tengah pluralitas bangsa.

“Inilah yang kita harus rawat. Indonesia ini adalah lukisan yang paling indah di muka bumi ini. Jangan ada yang mengacak-acak lukisan Tuhan,” ujarnya di Kantor Kemenag pada acara “Sea Light: Christmas, Loving God, Harmony and Humanity Together” yang digelar Direktorat Jenderal Bimas Kristen, Selasa 25 November.

Selama ini, perayaan Natal di lingkungan pemerintah umumnya dilaksanakan secara sektoral oleh umat Kristen dan Katolik. Namun, Kemenag sebagai institusi negara belum pernah menyelenggarakan perayaan Natal bersama. Karena itu, Nasaruddin menyebut penyelenggaraan tahun ini sebagai momentum bersejarah.

“Masak kementerian lain melakukan Natal bersama, Kementerian Agama enggak? Selama ini kan ada Natal Kristen, Natal Katolik, tapi Natal Kementerian Agama-nya tidak ada. Tahun ini kita akan membuat sejarah,” tegas Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.

Menurutnya, penyelenggaraan Natal bersama ini menjadi simbol bahwa Kemenag adalah rumah besar bagi seluruh umat beragama. Ia berharap langkah ini menjadi teladan dalam membangun toleransi lintas iman.

Dalam sambutannya, Nasaruddin kembali menegaskan bahwa kerukunan merupakan syarat utama kemajuan sebuah negara. Ia mencontohkan banyak negara kaya yang gagal menikmati kekayaannya karena terjebak konflik internal.

“Tanpa kerukunan, tidak ada artinya semuanya itu,” ujarnya.

Menag juga bersyukur karena Indonesia masih termasuk negara yang relatif damai, dan hal itu menurutnya tidak lepas dari peran Kemenag dalam menjaga keharmonisan umat beragama.

“Kata kunci untuk merukunkan bangsa ini adalah Kementerian Agama. Karena itu saya mohon betul, kita di Kementerian Agama ini harus kompak,” katanya.

Ia menegaskan, penyelenggaraan Natal bersama bukan bertujuan menyeragamkan keyakinan antarumat beragama, melainkan bentuk penghormatan terhadap toleransi dan kebersamaan.

“Toleransi itu jelas definisinya. Selama kita konsisten dengan toleransi ini, maka tidak akan ada masalah. Semua agama menghalalkan toleransi, tidak ada agama yang menolak kebaikan,” ucap Nasaruddin.

Dengan langkah ini, Kemenag berharap momentum Natal dapat memperkuat persatuan serta menjadi ruang dialog dan penghormatan antarumat beragama di Indonesia.