Bagikan:

JAKARTA — Presiden AS Donald Trump menerima undangan dari Presiden China Xi Jinping untuk mengunjungi Beijing pada April 2026. Trump mengatakan akan membalasnya dengan mengundang Xi untuk kunjungan kenegaraan ke AS akhir tahun depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah berbicara dengan Xi melalui telepon hampir sebulan setelah kedua pemimpin bertemu langsung di Korea Selatan. Keduanya

membahas berbagai isu termasuk Ukraina, fentanil, dan pembelian kedelai Amerika.

"Hubungan kami dengan Tiongkok sangat kuat!" tulis Trump dalam unggahan di Truth Social dilansir Associated Press, Selasa, 25 November.

Beijing, yang pertama kali mengumumkan panggilan telepon tersebut, tidak mengatakan apa pun tentang kunjungan kenegaraan tersebut tetapi mencatat kedua pemimpin membahas perdagangan, Taiwan, dan Ukraina.

Xi mengatakan kepada Trump, kembalinya Taiwan ke Tiongkok daratan merupakan "bagian integral dari tatanan internasional pascaperang," kata Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

Ini menjadi isu krusial bagi Beijing yang tidak disebutkan Trump dalam unggahannya.

Percakapan Xi Jinping dengan Trump terjadi di tengah memburuknya hubungan China-Jepang menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi baru-baru ini.

Ia mengatakan militer Jepang, sekutu utama AS, dapat terlibat jika China mengambil tindakan terhadap Taiwan, pulau berpemerintahan sendiri yang menurut Beijing harus berada di bawah kekuasaannya.

"Dugaan terbaik saya adalah Tiongkok khawatir dengan eskalasi (ketegangan) dengan Jepang. Referensi ke Taiwan dan tatanan pasca-Perang Dunia II secara langsung merujuk pada perselisihan dengan Jepang mengenai Taiwan," kata Sun Yun, direktur program Tiongkok di lembaga pemikir Stimson Center yang berbasis di Washington.

"Mereka juga membahas Ukraina. Itu adalah isu yang menarik perhatian Tiongkok karena adanya negosiasi perdamaian yang baru,” katanya.