Bagikan:

BANDUNG - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung terus mengoptimalkan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) untuk menekan volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sekaligus meningkatkan nilai guna sampah.

Ketua Tim Pengurangan Sampah DLH Kota Bandung, Syahriani, mengatakan RDF menjadi inovasi penting dalam mengolah sampah anorganik bernilai rendah agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar alternatif.

“Metode RDF ini menjadi salah satu cara kami mengubah sampah bernilai rendah menjadi energi yang bermanfaat. Industri bisa memakai RDF sebagai substitusi batubara, sehingga sampah tidak lagi hanya dibuang, tapi dimanfaatkan kembali,” ujar Syahriani di Bandung, Antara, Senin, 17 November. 

Ia menjelaskan, sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) kini telah beroperasi dengan menerapkan teknologi tersebut, salah satunya TPST Tegallega yang mampu mengolah sekitar 25 ton sampah per hari menjadi RDF.

Sementara itu, TPST Gedebage tengah ditingkatkan kapasitasnya untuk pengolahan sampah organik melalui metode maggotisasi dan sampah anorganik menjadi RDF dengan target 60 ton per hari.

“Dengan berbagai fasilitas ini, hasilnya mulai terasa. Volume sampah yang masuk ke TPA berangsur menurun, dan pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar alternatif mulai berjalan,” ujarnya.

Meski demikian, Syahriani mengakui masih terdapat sejumlah kendala, seperti suplai sampah yang terlalu basah atau tercampur, serta kapasitas operasional TPST yang belum sepenuhnya optimal.

Selain memperkuat fasilitas pengolahan, DLH juga mendorong partisipasi masyarakat melalui program bank sampah, kampung zero waste, Kawasan Bebas Sampah (KBS), hingga pengomposan rumah tangga.

“Kami ingin setiap RW bisa mengelola sampahnya sendiri. Mulai dari memilah, mengolah, sampai mengurangi sampah kemasan sekali pakai. Dengan begitu, sampah yang tersisa benar-benar sedikit,” katanya.

Ke depan, DLH Kota Bandung menargetkan penurunan signifikan volume residu ke TPA, peningkatan kapasitas TPST serta produksi RDF, perluasan kawasan dengan pengelolaan sampah mandiri, dan penguatan peran warga mulai dari pemilahan hingga pengolahan di tingkat kewilayahan.

“Masyarakat adalah bagian dari solusi. Saat masyarakat mulai memilah dari rumh, bergabung dengan bank sampah, ikut mengompos, atau mendukung TPST, itu sudah sangat membantu mengurangi beban kota dan melindungi lingkungan,” ujarnya.